Selasa, 01 Oktober 2013

hey birthday

hey, first
here we go, meet again
ngga kerasa sudah satu tahun waktu aku ingat saat awal kepala 2 aku kena surprise sama temen-temen paling gokil yang pernah aku kenal di kampus
tahun ini, meskipun aku mendapatkan memori menyakitkan seminggu lalu,
tapi aku dapat banyak doa
dapat surprise yang benar-benar tidak kuduga
aku bersyukur Allah masih memberi nyawa hingga saat ini
semoga semua doa yang kupanjatkan akan terwujud suatu hari nanti
jadilah pribadi yang lebih baik liv :)
always positive thinking :)

makasih buat madan, uthe, adjis, vana, febby..
makasih buat surprise dan kuenya :)

Jumat, 20 September 2013

Married ? Maybe

Buat uthe : kamu mungkin melihat Adrian sebagai sosok yang terlihat 'jahat' tapi sebenernya kamu tidak pernah benar-benar tau apa yang ia pikirkan kan ? we just people with a thousand thougt
Buat ira : semoga cerita ini punya arti yang bagus buat kamu

       
        " Rey, kamu kapan nikah sih sama Adri ? "
Pertanyaan mama masih terngiang-ngiang dalam kepala Reylisa dalam perjalanannya kembali ke kantor. Ia sadar hitungan waktu pacarannya dengan Adrian sudah bukan dalam angka bulan. Rey bahkan bisa hapal apa yang sedang Adrian lakukan pada jam-jam tertentu, jadi wajar saja kalau mama Rey menanyakan hal yang biasa seperti pernikahan.
" Dan, mama nanyain aku nikah kapan ?"
" Yah...wajar aja sih, udah hampir 10 tahun kamu pacaran sama dia. Yaudah, kamu buru nikah gih sana, umur udah hampir 30 gitu. "
" Masih setengah dekade lebih kali aku 30 Dan. Ngaco banget kamu. Tapi yah...Adri belum ada ngomongin tentang hal ini. Kita selalu menghindari topik seperti ini kalo lagi ketemu."
" Kalian itu udah gede. Kayak anak SMA aja yang ngga mikirin nikah. Buru deh sana omongin sama Adri, siapa tau aja sebenernya dia nunggu kamu buat ngomong duluan."
" Yang bener aja dong Dan, aku cewe, yang ada dia yang ngajak. "
" Terserah deh, tapi kalo ditagih nyokap lagi, ngga tau ya."
Setelah itu Danisa meninggalkan Reylisa yang masih sibuk mengetuk-ngetukkan pulpennya diatas meja kerja. Waktu untuk bicara yang dibutuhkan Rey saat ini, karena dia akan menikah dengan manusia, jadi dia butuh bicara.
***
" Gimana kerja kamu hari ini? Pelanggan masih pada rame yah, padahal udah mau tutup, kamu emang cocok dalam bidang kuliner gini. " Reylisa selalu menghabiskan malamnya untuk mampir di rumah makan milik Adrian. Ya, Adrian adalah seorang pengusaha dalam bidang kuliner. Saat ini restorannya sudah ada di beberapa kota dan akan semakin menjamur.
"Iya, aku bersyukur banget. Usaha selama ini ada hasilnya, walaupun belum semua tercapai. " Adrian tersenyum atas sanjungan pacarnya. Senyum itu, yang selalu membuat Rey tertarik berlama-lama untuk memandang Adrian.
" Hm..ada sesuatu yang mau aku omongin." Rey menghentikan makannya dan memandang Adrian. Bagaimanapun hasilnya nanti, Rey sudah menyiapkan hatinya untuk bisa menerimanya.
" Ada apa ?" Tatapan Adrian intens melihat Rey.
" Tadi pagi, mama nanyain kapan aku mau nikah." Seketika itu wajah Adrian berubah. Ia tegang dan kaku. Rey menatap Adrian perlahan, ia menebak-nebak apa yang sedang Adrian pikirkan saat ini.
" Mama kita kayaknya sudah punya telepati, tempo hari ibu juga nanya hal yang sama." Kali ini Rey yang gantian tegang dan mulai bertanya-tanya kenapa Adrian tetap tidak pernah menyinggung masalah pernikahan setiap mereka bertemu.
" Kenapa kamu ngga cerita ? "
" Well, aku ngga tau gimana cara bilangnya ke kamu Rey."
" Kamu bisa pakai bahasa indonesia kok. Aku pasti paham. "
Adrian tertawa mendengar candaan Rey. Membuat suasana sedikit mencair diantara mereka.
" Yaudah kalo gitu. Kamu mau nikah sama aku ?"
" Kamu lagi ngelamar aku nih Dri ? "
" Aku ngga ngelamar kamu, cuma ngajak kamu nikah. Mending aku nanya sekarang dapat jawaban sekarang daripada nanti aku cari seribu alasan lagi kalo ibu nanya. Jadi gimana ? "
" Ngga ada cincin, ngga pake acara berlutut dan sebagainya ? "
" Rey, ini kan dadakan. Lagian ngga perlu hal yang kayak gitu kan kalo emang kita udah sepakat mau nikah. "
Rey diam saja. Dia senang bahwa pada akhirnya Adrian mengajaknya untuk menikah namun raut wajah Adrian yang terlihat seperti terpaksa membuat Rey hanya bisa tersenyum tipis.
" Yaudah, kalo gitu let's get married." Rey menjawab ala kadarnya, Adrian hanya tersenyum tipis lantas kembali ke makanannya.
***
" Kamu beneran dilamar sama Adrian pake cara begitu ?" Rey selalu bercerita segala hal pada sahabatnya, Danisa.
" Iya Dan. Yah, ngga papa lah, kemarin dia langsung ijin sama orang tuaku dan tadi aku dapat sms kalo dia juga udah cerita sama orang tuanya soal rencana nikah ini. "
" Congratulation kalo gitu buat kamu Rey. Entar lagi kamu jadi Mrs. Prawija, hahaha. "
Rey sangat beruntung menemukan Danisa diantara ribuan orang di kampusnya, karena mereka berada di fakultas yang berbeda. Danisa juga yang tau bagaimana romantisnya Adrian saat meminta Reylisa sebagai pacarnya and its totally different dengan bagaimana Adrian melamar Reylisa.
***
" Mau berapa bulan lagi kalian nikah ?" Sore ini Reylisa sedang santai di teras belakang rumahnya karena sedang tidak ada project yang dia kerjakan.
" Ngga tau ma. Tahun depan mungkin. "
" Itu ngga kelamaan apa Rey?"
" Yah mama, Adrian mau buka cabang restoran dia lagi di Singapore dalam beberapa bulan ke depan. "
" Bulan apa emangnya dia mau opening ?"
" Desember katanya ma."
" Nah kalo gitu kalian nikahnya sebelum Desember aja. "
"Ma, Adrian bakal sibuk, kan tadi Rey udah bilang kalo dia mau buka cabang. "
" Hm..kalo gitu Februarinya deh. "
" Mama, itu bahkan ngga sampe 6 bulan lagi. "
" Ya kan kalian tinggal manggil EO, beres kan. "
" Entar Rey bilang dulu sama Adrian. " Bagi Rey, mendebat mamanya yang seorang pengacara tidak akan ada gunanya.
Malamnya Rey menelpon Adrian untuk menanyakan perbincangan tadi sore.
" Hey, lagi sibuk ya?"
" Ngga juga, kenapa sayang ?" Ah, sudah lama sekali Rey tidak mendengar Adrian memanggilnya dengan sebutan sayang.
" Tadi sore aku sama mama ngomongin bulan buat nikah. Mama minta Februari padahal aku udah cerita kalo kamu lagi sibuk karena mau buka cabang di Singapore bulan Desember. " Rey hanya bisa mendesah pasrah.
" Hm...ngga papa kok. Februari kelihatannya bagus." Rey lega mendengar jawaban Adrian, dan entah kenapa Rey bisa bisa merasakan senyuman saat Adrian menjawab pertanyaannya tadi.
" Thank's honey. Besok aku mulai cari EO deh. "
" You're welcome darl. Hm...aku besok ada ketemu sama supplier makanan, mungkin ngga bisa nemenin kamu, gimana ? "
" Oh..ngga papa, aku bisa nyari bareng Danisa. Dia pasti mau bantu kok. "
Dan tanpa sadar, obrolan lewat telpon itu berlanjut hingga larut. Bagi Rey, sejak mereka berdua sama-sama memasuki dunia kerja, jarang sekali mereka bisa ngobrol di telpon karena mereka sama-sama fokus dengan pekerjaan masing-masing.
***
" Masa yang mau nikah kamu tapi yang bantuin nyari EO aku sih ?" Danisa sudah mengomel di mobil Rey sejak Rey meminta bantuannya untuk mencari EO.
" Adrian lagi sibuk Dan, aku traktir makan deh sebagai imbalannya. "
" Ini baru juga awal mau nyari EO, dia udah main mangkir aja dari kerjaannya dia sebagai calon suami kamu. Jangan-jangan entar pas mau ijab kabul dia ijin lagi karena mau nangkep ikan salmon di tengah lautan. "
"Hahaha. Dia ngga bisa mancing Dan. Yah..dia kan baru ijin ini doang Dan, entar-entar pasti dia ngga absen lagi dari kewajiban dia yang kamu bilang 'kewajiban calon suami' itu. " Rey hanya bisa tertawa terhadap situasinya saat ini. Meskipun dalam hati Rey, akan lebih menyenangkan kalo dia mencari EO didampingi oleh Adrian.
Malam itu, seperti biasa Rey datang ke restoran milik Adrian.
" Udah dapat EOnya tadi ?"
" Hm ? Iya udah tadi, aku sampe harus nraktir Danisa 2 kali karena dia kelaperan nemenin aku muter-muter." Adrian tergelak dengan candaan Rey.
" Hahaha. Dasar si Danisa, ngga ikhlas bantuin sahabatnya sendiri. "
" Dia bilang, lain kali kamu ngga boleh mangkir dari 'kewajiban calon suami' kamu. " Adrian menunjukkan wajah tidak mengertinya.
" Iya, maksud dia ya, gitu kewajiban nemenin aku nyiapin pernikahan. Kata Danisa kalo aku minta temenin dia mulu, bisa-bisa aku dikira mau nikah sama Danisa means aku lesbi. hahaha. "
" Ahaha. Maaf deh aku hari ini ngga bisa nemenin kamu. Tadi beneran penting. "
" Ngga papa. Aku tau kok, kamu kan lagi sibuk-sibuknya nyiapin restoran yang di Singapore. Tapi lain kali, kalo bisa temenin yah, janggal kalo aku nyiapin sendiri. "
" Iya sayang. " Adrian spontan mengacak rambut Rey yang beberapa rambutnya sudah mulai keluar dari ikatan kuncir kudanya. Semarah apapun Rey, dengan sikap romantis Adrian saat ini sudah bisa melelehkan es yang tadinya bertengger di hatinya.
" Oh iya lupa sesuatu. " Adrian lalu mencari-cari sesuatu di tasnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil yang dibungkus kain beludru berwarna ungu agak tua.
" Ini cincin pertunangan buat kamu." Saat Adrian membuka kotak itu, wajah Rey sudah berubah berwarna merah. Rey sungguh tidak percaya bahwa Adrian akan memberinya cincin pertunangan, mengingat bagaimana Adrian melamarnya beberapa hari yang lalu.
" Ngga seberapa sih cincinnya. Semoga kamu suka. " Adrian menyematkan cincin itu di jari Rey dan lantas menciup tangan gadis yang sudah lama menjadi pacarnya itu.
" I love you, Ms.Reylisa Arfisiana. "
" Then you have my love, Mr. Adrian Prawija. " Senyum Reylisa mengembang dengan sempurna, capek yang dia rasakan karena mencari EO hilang seketika karena perlakuan romantis Adrian yang sudah sangat jarang lagi Adrian tunjukkan.
***
Sudah sebulan lebih Rey mempersiapkan pernikahannya dengan Adrian. Namun, jadwal mangkir Adrian dari menemani Rey masih saja sering terjadi. Dari mulai memilih kue pernikahan mereka sampai menentukan dress code apa yang akan dikenakan tamu undangan nanti. Dan sore ini adalah jadwal mereka untuk menentukan design kartu undangan mereka.
" Hey, kamu lagi sibuk? "
" Aku lagi istirahat siang. Ada apa ? "
" Hm..ingat ngga kalo sore ini kita ada janji buat nentuin design kartu undangan?"
" Iya aku ingat kok, nanti aku jemput kamu di kantor aja ya?"
" Hm..ngga usah, langsung ke tempat designnya aja, aku bawa mobil sendiri soalnya. "
" Okay kalo gitu, see you later. "
Rey menutup telponnya. Untung kali ini Adrian bisa menemaninya menentukan design kartu undangan.
Sudah beberapa menit Rey sampai di tempat design kartu undangan saat telpon dari Adrian muncul di handphonenya.
" Ya, halo, kenapa Dri ? Aku sudah sampai ini. "
" Hm.. Rey, aku mendadak harus ngurusin restoran bentar soalnya lagi ada masalah dikit. Pengunjung yang udah reservasi ngga dapat tempat, mungkin lupa dicatat. "
" Jadi kamu ngga bisa kesini ?"
" Kemungkinan ngga bisa. Soalnya restoran lagi penuh dan aku musti cari alternatif untuk masalah resevasi ini. Maaf ya Rey. "
Rey mendesah perlahan, bertahan sekuat tenaga agar tidak menjatuhkan air matanya yang sudah penuh di pelopak matanya. " Iya, ngga papa. Lagian itu emergency. "
" Rey, you'll be okay, rite ?"
" I'm okay. Cepat urusin reservasinya, entar pelangganmu kabur lagi."
" Okay then. Bye. "
" Bye."
Rey menutup telponya, dengan langkah sedikit gontai ia memasuki ruangan. Ia harus memaafkan Adrian, bagaimanapun Adrian adalah calon suaminya.
***
" Kamu udah milih kartu undangannya tadi Rey?" Adrian membuka pembicaraan setelah beberapa menit mereka berdua hanya terfokus pada makanan mereka.
" Belum. Aku bawa katalognya aja. Tetep harus keputusan kita berdua. Ini katalognya. " Rey lalu menyerahkan katalog yang tadi ia bawa ke Adrian. Adrian dengan seksama melihat-lihat katalog ini lantas memilih satu dan menunjukkan ke Rey.
" Yang ini kayaknya bagus Rey. Simple tapi elegan, gimana ? " Rey melihat pilihan Adrian. Rey tersenyum tipis mengetahui bahwa kartu undangan yang dipilih Adrian adalah kartu undangan yang menarik perhatiannya.
" Itu bagus kok. Tadi aku hampir pillih itu, tapi aku memutuskan buat tau pendapatmu dulu. "
" Kalo gitu yang itu aja. Kita setipe ternyata." Adrian tersenyum.
" Maaf banget Rey aku udah sering absen. Kerjaanku.."
" Aku tau kok Dri, aku cukup mengerti. Cuma, pernikahan butuhnya dua orang. Kalo aku yang ngurusin semuanya, itu sama aja dengan aku menikah dengan diriku sendiri, it means aku akan terlihat seperti orang gila. "
Adrian sudah menggenggam tangan Rey dengan lembut. " Iya, sayang. Aku beneran minta maaf. Kamu tau kan minggu depan aku bakal opening restoran yang di Singapore. "
" Iya, it's fine Drian. Kan tadi aku sudah bilang kalo aku mengerti. Jadi kapan kamu berangkat ke Singaporenya ? "
" Kemungkinan lusa. Kita kosongin dulu ya janji buat nyiapin pernikahan selama 2 minggu ke depan. Ngga papa kan ?"
" Kamu 2 minggu di Singaporenya ?"
" Iya. Disana kan restoran baru, jadi masih butuh aku awasi selama seminggu. Kamu mau ikut?"
" Hm..ngga usah. Aku ada project yang harus aku kerjain juga. Ada design baru yang di order. "
" Rey, menurutmu kalo aku buka cafe gitu,gimana ?"
" Bagus kok. Kalo restoran dan rumah makan kan biasanya untuk keluarga. Kalo sekedar cafe, bisa jadi tempat nongkrong buat anak kuliahan. "
" Sebenernya aku udah ada beli ruko gitu di daerah sekitar Jl Jend Sudirman. Kamu mau ngga kalo yang design interior cafe itu kamu ? I'm okay kok kalo kamu tetep minta bayaran buat ini. Gimana Rey ?"
" Aku seneng aja kok buat ngerjainnya, ngga minta bayaran sih, cuma free tiket buat nongkrong disitu sebulan. Hahaha. "
" Kalo kamu sih, tiket gratisnya kan seumur hidup. Hahaha. "
" Kapan gitu emang mau dibukanya ?"
" Rencananya Maret ini, bisa kamu kerjain sebelum itu?"
" Kok mepet banget sama bulan pernikahan kita ?"
" Aku planningnya udah lama sebenernya Rey, baru bisa cerita sama kamu sekarang. "
" Yaudah, aku usahain maret udah selesai. "
" Makasih banyak Rey."
Malam itu Adrian banyak tersenyum untuk Reylisa, senyum teduh yang selama ini mampu meluluhkan hati Rey, hanya saja entah kenapa malam itu yang Rey rasakan hanyalah rasa steak tenderloin-nya yang sedikit asin, mungkin karna ia terlalu banyak menambahkan garam.
***
" Cieee..yang ditinggal 2 minggu sama calsum, calon suami. Hahaha" Danisa sudah mulai menggodanya sejak Rey berlinang air mata sehabis mengantar Adrian ke bandara.
" Sialan. Kamu bayangin kalo Ergi pergi 2 minggu gimana ?" Rey membalas candaan Danisa menggunakan nama pacar baru Danisa.
" Hahaha. Untung aja Ergi ngga kayak calsum kamu. Lusa dia pulang ya Rey ?"
" Yep. Yang pasti aku jemput lagi sih. "
" Kapan jadinya kalian mau fitting baju ? "
" Minggu depan, aku udah bikin janji, Adrian aku tanyain nge-iyain juga."
" Yah...moga dia ngga mangkir lagi deh."
" Kamu ngedoainnya gitu deh Dan."
" Coba pikir deh Rey, dia sering banget absen karna alesan kerjaan. Jadi sebenernya dia itu mau nikah sama kerjaan apa sama kamu ?"
" Tapi selama ini dia minta maaf kok. "
" Yaudah deh, terserah. Susah sih yang mau nikah ini. Hahaha "
Rey sudah siap-siap melempar Danisa dengan tempat pensilnya kalau Danisa tidak melarikan diri duluan.
***
" Halo, Dri, jadi kan sore ini fitting ?"
" Hm? Harus sore ini Rey ?"
" Aku kan udah bilang sama kamu, dan udah ngingetin kamu juga tempo hari. "
" Aku mungkin telat dateng Rey, ngga papa kan ? Ada yang musti aku urus dulu. "
" Kerjaan lagi ya ?"
" Ya."
" Yaudah kalo gitu, aku tungguin disana nanti. "
" Oke, maaf Rey. "
" Oke."
Rey menutup telponnya dengan lesu. Ia mendesah perlahan, mulai meragukan keputusannya untuk menikah dengan orang yang sudah dicintainya lebih dari 5 tahun itu.
" Kenapa mukamu Rey ?" Danisa sudah bersiap untuk pulang dari jadwal ngantornya.
" Adrian telat buat fitting. "
" Kerjaan ? "
" Yep. "
" At least dia bilang telat kan Rey, bukan ngga dateng. "
" Tapi kan Dan.." Danisa menghentikan aktifitasnya karena melihat sahabatnya itu bahkan tidak bisa untuk berpura-pura kalau tidak terjadi apa-apa.
" Rey, gini deh. Coba kamu tanyakan lagi dengan lebih serius ke Adrian, apa dia sudah bulat tekadnya buat nikah sama kamu, tanpa memikirkan desakan dari orang tua kalian. "
" Aku harus yakin sama dia Dan. Kalau dia bilang iya, itu artinya memang iya. Dia selalu to the point. "
" Terkadang, se to the point nya orang, dia punya rahasia sendiri untuk dunia kecilnya. Seperti kamu yang ngga pernah cerita ke Adrian kalo kamu masih nyanyi lagu twinkle twinkle little stars sebelum gosok gigi pagi. "
" Kita lihat aja nanti Dan. " Reylisa menyunggingkan senyum tipis.
" Yuk aku temenin ke tempat fitting. "
" Ergi gimana ?"
" Ergi udah gede Rey, dia bisa pulang sendiri. Hahaha "
Reylisa sangat bersyukur punya sahabat seperti Danisa. Danisa seperti pahlawan bertopeng yang datangnya ngga pernah telat.
***
Sudah hampir 2 jam Reylisa menunggu Adrian di tempat fitting baju pernikahan mereka. Handphone Adrian sedari tadi selalu sibuk. Saat Reylisa memutuskan untuk pulang, lelaki itu datang ke hadapan Reylisa dengan tergesa.
" Rey.." Adrian berhenti untuk mengambil beberapa napas.
" Sudah hampir 2 jam. Hapemu sibuk. "
" Maaf maaf, daritadi aku nelpon orang dan aku banyak di telpon, baru sempet baca smsmu kalo km masih disini, jadi aku buru-buru ke sini. Udah kamu fitting bajunya ?"
" Belum, aku nunggu kamu, aku butuh pendapatmu apa bajunya cocok buat aku pakai atau ngga. "
" Aduh Rey, aku pikir sudah. Jadi aku ke sini tinggal aku aja yang fitting trus kita pulang, masih ada yang harus aku kerjain. Kalo menurut kamu itu cocok, yaudah, berarti cocok kan. Tadi kan kamu juga bisa nanya ke Danisa."
Reylisa tertegun, ia terdiam sejenak, lantas membalas dengan nada datar, " Tunanganku itu kamu Dri. Bukan Danisa dan bukan diriku sendiri. "
" Iya, tapi kan kamu bisa sendiri, itu kan kamu yang pake juga. Bukan aku. "
" Sendiri ya ? Menurut kamu, yang nyiapin semua ini siapa? Apa kamu yang susah payah buat nyari EO? Apa kamu mengkhawatirkan aku yang nyasar waktu mau ke toko kue ? Ngga Adrian. Kamu hanya peduli sama pekerjaan kamu saja. "
" Iya, aku tau perasaan kamu, tapi kan.."
" Kamu ngga tau Adrian. Karena kamu ngga pernah menanyakan perasaanku gimana. " Seketika itu, air mata Reylisa sudah deras membanjiri muka Reylisa yang tampak lelah, Adrian hanya bisa diam mematung di tempatnya, dia tidak percaya bahwa Reylisa bisa marah kepadanya. Tanpa menunggu Adrian angkat bicara, Reylisa sudah keluar dari tempat itu dan memacu mobilnya pulang ke rumah.
***
Sudah satu minggu Reylisa mengabaikan Adrian, dari mulai email, sms bahkan telponnya. Reylisa sedang berpikir, tentang semua rencana mereka yang harusnya dilangsungkan 1 bulan lagi.
" Kamu masih berantem sama Adrian, Rey ? "
" Guess it. "
" Rey, kapan selesainya masalah kalian kalau kamu selalu menghindari setiap Adrian ngehubungin kamu. "
Reylisa menghentikan aktifitasnya, dia diam dan terpaku.
" Rey, dengerin deh. Kalo nd diomongin ngga bakal selesai-selesai. Rencana nikah kalian kan udah bulan depan, kalo ngga diomongin sekarang gimana kalian mau ketemu nanti waktu mau nikah ?"
" Aku..belum siap buat denger hasilnya kalo aku ngebicarain sama dia. "
" Dengerin dulu Rey, jangan negative thinking dulu. Ayolah Rey, mau sampai kapan ?"
" Tapi kalau ternyata..."
" Hey, kalau itu terjadi, aku masih punya 2 bahu buat nampung air mata kamu, dan aku masih punya segudang film buat kamu tonton sampai pagi. Okey ?"
" Thank's Dan. " Danisa tersenyum memandang sahabat terbaiknya itu.
***
Malam itu, tanpa janjian dengan Adrian, Reylisa sudah duduk manis di restoran Adrian, tepat di tempat mereka biasanya makan malam. Pegawai yang tau langsung menghubungi Adrian, dan dengan muka yang masih kaget Adrian mendatangi tempat duduk Reylisa.
" Rey.."
" Duduk  dulu Dri." Reylisa tersenyum tipis. Adrian lantas duduk di hadapan Reylisa dan menanti Reylisa menjelaskan maksud kedatangannya yang tanpa kabar itu dengan wajah bertanya-tanya.
" Apa kamu bener-bener mau nikah sama aku Dri ? " Tatapan Reylisa intens tanpa menghakimi Adrian.
" Iya Rey, kan mama kamu juga.."
" Maaf Dri, dengan mengesampingkan mamaku dan ibumu, apa kamu bener-bener mau nikah sama aku bulan depan Dri ?"
Adrian terdiam cukup lama, mukanya serius. Ia sedang menimbang kata-kata yang pas untuk menjawab pertanyaan Reylisa.
" Rey, kita berdua masih muda. Umur kita bahkan belum sampai 29. Aku masih punya banyak mimpi yang mau aku raih. Aku masih mau buka cabang, aku masih mau buka cafe, dan masih banyak lagi Rey. Aku mau nikah sama kamu, tapi ngga bulan depan Rey. "
" Kenapa kamu ngga bilang dari awal ?"
" Aku ngga bisa mematahkan harapan mama kamu dan ibuku. "
" Kamu bisa bilang Dri. Dan aku juga bisa ngejelasin sejelas-jelasnya ke mama. "
" Maaf Rey. " Adrian merasa bersalah. Dia sudah membuat retak hati wanita yang selama ini sabar untuk menunggunya.
" Ngga papa. Kalo gitu, kita batalin aja pernikahannya. " Reylisa memaksakan diri untuk tersenyum meskipun tangannya sudah bergetar sejak tadi.
" Maaf Rey. "
" Ngga papa Dri. Lebih baik dibatalin daripada kamu terpaksa. "
***
Pernikahan itu dibatalkan. Cafe baru Adrian juga segera dibuka. Hanya saja, Reylisa sudah semakin jarang bertemu Adrian. Berkomunikasi pun bisa dihitung pakai jari tangan. Tempo hari, saat Rey mengantar rancangan interior untuk cafe baru Adrian, ia sedang tidak ditempat, saat ditanya dimana ternyata Adrian sedang sibuk rapat untuk memilih pegawai cafe nya. Bagi Reylisa, hubungan mereka bukan sebagai sepasang kekasih, tapi terlebih seperti dua orang yang harus stuck bersama tapi hati mereka stuck pada pekerjaan mereka masing-masing. Terlalu ganjil.
" Halo Dri, kamu lagi dimana sih ?"
" Hey Rey, aku lagi di Singapore. "
" Singapore ? Kok ngga bilang. "
" Mendadak Rey, ada orang yang tertarik buat ikut nanam saham, jadi aku harus datang buat ngurusin. "
" Bukannya kamu udah punya manajer buat disana ? "
" Ngga bisa Rey, harus aku yang turun tangan. "
" Se ngga nya kamu bilang sama aku. Sesedikit itukah waktumu ? Well, have fun. "
Reylisa lalu memutus telponnya. Ia hanya bisa mendesah dengan nafasnya yang berat.
" Berantem lagi ?"
" Ngga Dan, bahkan setelah apa yang terjadi diantara kami, ini bukan berantem, justru baikan karna aku bisa ngomong sama dia. "
" Sarkas banget bahasanya. Gini aja deh Rey, entar kalau dia udah bisa ketemu, kalian kelarin deh 'baikan' nya kalian. Aku kan udah pernah bilang Rey, kalo diomongin pasti ada jalan keluarnya. "
" We'll see Dan. " 
Saat Adrian datang, itu adalah saat yang paling dinanti Reylisa. Dan disanalah dia sekarang, di tempat biasa mereka makan malam sedang menunggu Adrian untuk datang.
" Hey Rey, tumben ke sini, ada apa ?"
" Bukannya emang kita biasa makan disini ya ? Hanya beberapa minggu terakhir kita terlalu sibuk dengan dunia kita sendiri. "
" Rey.." Belum selesai dengan kalimatnya, handphone Adrian sudah berbunyi.
" Entar ya Rey. "
" Silahkan. "
Adrian tampak agak menjauh saat menjawab telponnya. Lama Reylisa menunggu Adrian untuk kembali ke tempat duduknya lagi.
" Maaf Rey, tadi ada urusan mendadak. "
Reylisa hanya tersenyum namun dalam hatinya ia menangis.
" Sampai mana tadi ?"
" Sampai Rey. "
" Rey, kamu tau kan ada cafe yang baru opening? Aku banyak mengurus di sana karena aku masih awam dalam hal cafe, jadi aku juga harus sering-sering ke konsulen untuk membicarakan tentang cafe itu. Aku harap kamu ngerti Rey. " Adrian mejelaskannya dengan nada yang lembut.
" Iya, aku paham kok Dri. Paham sekali. Kamu sangat mencintai pekerjaanmu, bahkan sepertinya aku tidak masuk lagi dalam waiting list mu. "
" Bukan gitu Rey. "
" Menurutku ini saat yang tepat untuk kita meraih mimpi kita masing-masing tanpa harus terikat satu sama lain. " Reylisa menjelaskannya dengan suara yang cukup tenang meskipun air matanya sudah menunggu untuk dikeluarkan. Adrian terpaku, ia diam dan tidak bisa menjawab.
" Dri, kita, putus saja ya?"
" Rey, aku ngga bermaksud buat putus dari kamu. Cuma.."
" Iya, aku paham Dri, makanya, kamu kejar mimpi kamu, dan aku mengejar mimpiku. Kamu ngga perlu terbebani tentang aku. "
" Kalau itu mau kamu Rey. " Adrian tersenyum sendu. Rey lalu menyerahkan cincin yang dulu pernah Adrian berikan padanya.
" Ngga usah Rey. Kamu simpan aja. Cincin itu tampak cocok di jari kamu. " Rey lalu memasukkan kembali kotak cincin itu ke tasnya.
" Kalau begitu, aku pamit Adrian Prawija. Selamat tinggal. " Kata terakhir Rey sudah sedikit bergetar, kalau ia tidak segera pergi dari situ, ia yakin sekali bahwa wajahnya sudah habis dilalap air matanya sendiri.
Berakhir sudah tentangnya dan Adrian. Sosok yang selalu bisa membuatnya luluh, sosok yang selalu ia cintai, sosok yang dulu menyatakan cintanya dengan persiapan yang romantis, sosok yang nyaris menjadi pendamping hidupnya.
***
2 tahun kemudian.
" Aduh Dan, musti ya aku nemenin kamu fitting baju pernikahan ? Ergi mana ?"
" Yah Rey, Ergi bakal dateng juga, cuma dia agak telat katanya mau ngambil pesenan cincin pernikahan dulu. Aku kan udah nemenin kamu dulu, masa kamu ngga mau nemenin aku sih Rey? "
" Iya deh iya, aku temenin kamu deh, aku kosongin jadwalku buat sore ini. "
" Aduh, susah sih yang udah punya perusahaan sendiri sekarang kan. Yadeh, kita langsung ketemu di tempat aja kalo gitu, bubye. "
Reylisa menutup telponnya, ia mendesah pelan. Sudah dua tahun ia tidak pernah mendengar kabar tentang Adrian Prawija, tidak pernah secara langsung. Karena terkadang, ia datang ke salah satu restoran milik Adrian walaupun tidak pernah secara tidak sengaja bertemu dengan yang punya. Reylisa lalu mengeluarkan kotak beludru berwarna ungu berisi cincin, memandanginya lama, lantas menyimpannya kembali di laci kerjanya. Ia harus bisa mempersilahkan Adrian mengejar mimpinya tanpa terbebani olehnya.
Sorenya Danisa sudah menunggu Reylisa yang datang agak sedikit terlambat.
" Maaf agak telat nih, tadi kena macet di jalan."
" Dasar nih, Ergi entar lagi dateng katanya kena macet juga. "
" Tuh kan, yaudah, yuk gih masuk. "
Danisa dan Reylisa masuk ke butik khusus baju pengantin itu. Banyak pakaian yang Danisa coba, Ergi juga sudah datang untuk memilih-milih model apa yang akan mereka kenakan. Pasangan serasi itu akhirnya membicarakan pilihan mereka pada sang designer saat tiba-tiba suara familiar itu memanggil.
" Rey. "
Rey seketika menoleh. Tubuhnya kaku tidak mampu bergerak. Danisa yang melihat siapa yang menyapa Reylisa ikut terkejut, lantas minta ijin dan mendatangi Reylisa yang masih diam.
" Hai Adrian. Apa kabar ?"
" Baik." Adrian tersenyum. Senyum itu masih sama, tubuh Adrian yang seorang pemain tenis semasa dia kuliah dulu masih terlihat jelas, menandakan ia masih rajin berlatih olah raga yang dicintainya itu.
" Sendirian aja Dri ?"
" Oh ngga, sama ini. " Seorang wanita dengan muka blasteran keluar dari balik tubuh Adrian yang cukup jangkung.
" Kenalin, Sofia. "
" Danisa, ini Reylisa. " Danisa dan Sofia bersalaman, begitu juga Reylisa. Hanya saja mulut Reylisa terlalu kaku untuk digerakkan, seperti ada tulang yang tumbuh di bibirnya.
" Lagi fitting baju Dan ?"
" Hm iya, aku mau married. Kamu juga mau fitting ?"
" Iya ini nemenin Sofia buat fitting. "
" Oh gitu. Yaudah, silahkan fitting deh, kapan-kapan ketemu lagi."
Adrian tersenyum lantas pamit pada Danisa dan Reylisa. Reylisa masih mematung di tempat ia berdiri tadi.
" Rey, kamu ngga papa ?"
" Yang tadi itu, Adrian, Dan ?"
" Iya Rey. Dunia ini sempit yah. Kamu ngga papa kan ?"
" Iya ngga papa. " Reylisa tersenyum.
Pertemuan itu ternyata tidak hanya sekali, beberapa kali ia bertemu dengan Adrian saat Reylisa menemani Danisa untuk konsultasi soal baju pengantinnya. Beberapa kali Reylisa berbincang dengan Adrian, mulai dari kerjaan mereka, sampai tentang kebiasaan Adrian yang masih suka makan di tempat mereka dulu biasa makan malam. Namun, lama kelamaan Reylisa menyadari bahwa tidak benar membiarkan hatinya menerima kembali sosok Adrian. Adrian kini sudah bahagia, ia akan punya kehidupan sendiri. Adrian sudah sukses dengan mimpinya, bahkan jika Adrian santai sepanjang hari di rumahnya, ia tetap bisa membayar para pekerja di seluruh cabang restorannya. Menurut Reylisa, inilah waktunya untuk melepaskan Adrian, benar-benar melepasnya.
" Rey, sore ini temenin aku lagi konsul yuk, Ergi mau ngecek gedung soalnya. "
" Dan, kamu bisa ngga kalo pergi sendiri ?"
" Kenapa Rey ?"
" Aku takut ketemu Adrian lagi. "
" Bukannya kalian akrab aja ya. "
" Justru karena itu Dan. Aku ngga mau aku kembali mikirin dia, mungkin ini saatnya buatku untuk bener-bener ngelepasin dia Dan. "
" Rey, mungkin Adrian adalah orang yang baik, tapi mungkin dia tidak cukup baik buat kamu. Masih ada 6 milyar lebih orang di luar sana. Aku tau kok kalau kamu punya hati yang besar. " Danisa tersenyum menatap sahabatnya yang mulai merasakan kesedihan ini lagi. Dalam hati ia sedikit mengumpat Adrian yang sudah berani mematahkan hati sahabatnya ini dua kali.
" Kalo gitu aku pergi ke butik sendiri aja. Ngga papa kok. "
Firasat Reylisa benar, sore itu Adrian datang dengan Sofia saat Danisa sedang menunggu perancang busananya datang.
" Hai Dan. "
" Hai Adrian. "
" Kamu sendiri aja Dan ? Reylisa mana ?"
" Kok kamu nanyanya Reylisa sih, aku kan mau nikah sama Ergi, bukan Reylisa. "
" Ya..kan biasanya dia nemenin kamu." Sofia sudah ijin untuk masuk terlebih dulu.
" Drian, plis deh, kamu itu kan udah mau nikah, ngapain sih masih nyariin Reylisa ? Ngga cukup dulu kamu lebih milih nikah sama kerjaan kamu dibanding dia ?"
" Tunggu, siapa yang mau nikah ?"
" Kamu kan, sama sofia ?"
" Hahahaha. Lucu banget sih Dan, ngga mungkin lah. "
" Kenapa ngga mungkin, kamu kan datang fitting baju sama dia. "
" Terus kalo aku datang fitting baju sama dia, itu berarti aku mau nikah sama dia. Berarti kalo Reylisa nemenin kamu fitting baju, kamu mau nikah juga dong sama dia. "
" Iya kan beda Drian. Jadi, kamu ngapain nemenin Sofia fitting baju ?"
" Ya ngga papa dong, kan dia sepupuku, masa aku nolak dimintain tolong buat nemenin. "
" Sepupu ?"
" Iya, Sofia itu sepupuku. Dia mau nikah bulan depan, suaminya masih cukup sibuk menyiapkan pesta mereka dan menyiapkan seluruh keluarga, jadi aku yang nemenin Sofia fitting, calon suaminya sudah fitting duluan sebelum Sofia. "
" Jadi selama ini Reylisa..."
" Dia salah sangka ?"
" Sepertinya begitu, itu kenapa dia ngga mau nemenin aku hari ini. "
" Tapi seharusnya ngga papa dong meskipun misalnya aku beneran fitting sama calon pengantinku. "
Danisa akhirnya menyerah dan mengalir lah semua cerita tentang Reylisa, bagaimana Reylisa tidak mau keluar kamar selama 3 hari setelah ia memutuskan hubungannya dengan Adrian sampai tentang Reylisa yang masih mencintai Adrian hingga saat ini. Pada akhirnya, sebuah rencana terbersit dalam benak Adrian.
***
" Datang aja lah Rey. Ngga ada salahnya kan. "
" Salah Dan kalau yang ngajak itu Adrian. "
" Cuma makan malam di sebuah restoran Rey, masa kamu ngga mau sih ngobrol banyak sama dia. "
" Aku mau nyerah Dan. "
" Gimana kamu nyerah kalo kamu masih sering ngeliatin kotak cincin yang dikasih Adrian. Gimana kalo kamu sekalian ngembaliin itu ke Adrian? "
" Aku kan bisa titip kamu waktu kamu mau ke butik lagi. "
" Kemarin Adrian bilang dia ngga ke butik lagi. Makanya ngajak kamu makan malam. Come on Rey, face him. "
" Okay. Sekalian aku mengembalikan kotak cincin itu. "
Malam itu Rey datang ke restoran tempat dia dan Adrian makan malam. Adrian sudah rapih dengan kemejanya yang digulung setengah.
" Malam Rey. Pesan dulu. " Reylisa lalu memesan makanan pada pramusaji.
" Gimana kabar kamu Rey ? "
" Baik." Rey masih tidak sanggup menatap Adrian, ia lebih memilih menatap keluar jendela, restoran yang terletak di balkon sebuah gedung tinggi ini memberikan pemandangan kota yang cantik.
" Rey, aku minta maaf atas apapun yang menurutmu salah. " Kali ini Rey menatap Adrian.
" Tidak Dri, kamu ngga salah. Kamu cuma meraih mimpimu, hanya saja, aku terlalu lelah untuk menyamai langkahmu. Jadi aku memilih untuk tinggal dan membuat langkahku sendiri, dan aku tau kamu sudah membuat langkahmu dengan cukup baik. " Reylisa tersenyum manis, membuat Adrian merasa bernostalgia. Wanita dihadapannya ini masih ia cintai, selalu seperti itu sejak dulu.
" Oh iya, aku berencana datang untuk mengembalikan ini. Rasanya ngga pantas aku nyimpan ini lagi, kamu sudah punya calon yang lebih pantas untuk menerimanya. " Reylisa lalu menyerahkan kotak  yang terbungkus kain beludru berwarna ungu gelap itu pada Adrian.
" Aku kan sudah bilang Rey, cincin itu pas di jari kamu. Jadi boleh buat kamu. "
" Tapi aku ngga enak sama Sofia."
" Kenapa harus ngga enak ?"
" Kamu kan mau nikah sama dia. "
Adrian spontan tertawa mendengar pernyataan dari Reylisa.
" Kenapa malah ketawa ?"
" Kamu lucu sih Rey. Mana mungkin aku nikah sama Sofia, dia kan sepupuku. Lagian dia udah punya calon suami kali Rey. Malam ini mereka berdua lagi ngecek persiapan nikah mereka, soalnya bulan depan mereka udah nikah. "
Reylisa diam, dia malu, mengumpat dirinya sendiri yang terlalu bodoh karena sudah berprasangka. Muka Reylisa sudah memerah, ia memalingkan muka menatap keluar jendela lagi. Makanan menyelamatkannya. Mereka berdua terlalu fokus untuk makan sampai-sampai terlalu sedikit obrolan mereka dan kebanyakan dimulai oleh Adrian.
" Hm..aku ijin ke belakang sebentar ya Rey. " Reylisa hanya mengangguk, Adrian lalu beranjak dari kursinya.
Tidak lama kemudian semua lampu mati, kecuali satu lampu di tempat Reylisa duduk. Reylisa masih belum keheranan sampai saat Adrian sudah duduk rapi di depan sebuah piano, memainkan sebuah lagu. Lagu yang Reylisa kenal karena lagu itu adalah lagu kesukaan mereka berdua dan selalu diputar di dalam mobil saat mereka sedang jalan berdua. Reylisa ingin menangis karena ingatannya saat bersama Adrian muncul melewati otaknya. Dan kini semua itu terlambat, semua itu hilang.
       Permainan piano Adrian menghipnotis Reylisa dengan sempurna.Tubuh Adrian yang tegap dan ideal berpadu sempurna dengan grand piano yang ada di depannya.Jemari Adrian begitu lihai memainkan tuts piano semudah saat ia mengetik laporan di laptopnya.Ah..Reylisa menyesal tidak cukup punya kesabaran untuk menemani lelaki itu meraih mimpinya.Andai saja Reylisa belum melepasnya ia bisa menikmati saat-saat seperti ini kapanpun dia mau.Dengan segala penyesalan dan hatinya yang mulai merasakan perih,air mata Reylisa jatuh semakin tidak terkendali.Setelah permainan piano itu selesai,Adrian berdiri dan berbicara dengan penuh keyakinan.
" Untuk Reylisa Arfisiana. Aku masih mencintaimu seperti dulu. Aku selalu mencarimu, mungkin bagimu saat bertemu aku kemarin dunia ini sempit, tapi bagiku, 2 tahun tidak pernah menemukanmu, menurutku dunia ini luas. Rey, lihatlah ke luar, seluruh perasaanku aku curahkan di sana. "
Reylisa berdiri, ia bergerak menuju ujung beranda. Ia terkejut dan tak sanggup lagi membendung air matanya. Di seberang sana, sebuah gedung dengan kaca-kaca yang menutupinya, lampu-lampu menyala membentuk sebuah tulisan secara bergantian.
' I love you'
Tulisan itu yang tertera disana dengan lampu ruangan yang dihidupkan secara bergantian. Adrian sudah berdiri di samping Reylisa.
" Belum selesai Rey."
Reylisa masih menatap ke gedung itu. Tulisannya berganti, membuat air mata Reylisa semakin keluar tidak karuan.
' Marry me'
Tulisan itu muncul kembali secara bergantian. Reylisa masih terpaku di sana, sedangkan Adrian sudah berlutut di depan Reylisa lengkap dengan sebuah kotak yang dibungkus dengan brokat berwarna putih.
" Ms Reylisa Arfisiana, mungkin aku terlambat mengatakan ini. Mungkin seharusnya aku mengatakannya dari dulu sebelum kamu menghilang. Will you marry me ?"
Reylisa diam, ia terpaku. Tidak pernah percaya bahwa akhirnya Adrian akan merencanakan sebuah lamaran yang romantis seperti ini.
" Iya Adrian. Kapanpun kamu tanyakan, jawabanku akan tetap iya." Reylisa tersenyum dibalik air matanya yang sudah ia hapus tadi. Seluruh orang yang ada di restoran itu bertepuk tangan, ikut bahagia. Adrian mengenakan cincin itu pada jari Reylisa, lantas mencium wanita yang selalu ia cintai itu di keningnya.
***
Restoran sudah mulai kosong, hanya tinggal Adrian dan Reylisa yang duduk di sana menikamti minuman mereka
" Kali ini kita akan beneran nikah Dri ? Bukan karena desakan mama ?"
" Ngga Rey. Kali ini serius. Kamu pikir berapa jam untuk mempersiapkan lampu di gedung seberang itu. "
" Kamu nyewa gedung itu ?" Reylisa menunjuk gedung tempat tulisan tadi muncul.
" Itu punyaku Rey. Sebuah kantor, aku membelinya beberapa bulan lalu. Dipakai buat perusahaan majalah. Aku minta tolong sama pegawai mereka dan pegawaiku buat nyiapin itu semua. Restoran tempat kita makan ini juga tadi isinya semua teman-teman bisnisku. "
Reylisa tersipu. Ia mencintai Adrian, bahkan jika ia ditanya kesekian kalinya, jawabannya akan tetap sama seperti itu.
" Kita nikah bulan depan yah. "
" Cepet banget. Kan belum persiapan. "
" Sebulan buat persiapan cukup kok. Aku bisa cuti panjang. " Adrian tersenyum menatap Reylisa sekilas.
" Thank you Drian." Senyum Reylisa merekah, ia bahagia.
" Your welcome. I always love you Mrs Reylisa Prawija. " Adrian menggenggam tangan Reylisa erat. Reylisa tersenyum kembali dan masih tetap lebar.
" You always have my love Mr Adrian Prawija. "
Apakah mereka akan menikah ? Jawabannya, mungkin. Anything could be happen.

Sabtu, 18 Mei 2013

tentang sesuatu

beberapa menit yang lalu padahal mataku rasanya sudah berat sekali untuk terbuka
tapi hingga sekarang, saat bapak siskamling membunyikan suara sebanyak 12kali, aku belum juga bisa tidur
ada sesuatu yang sedang kupikirkan, entah apa itu
mungkin menyangkut kamu atau juga kamu
bukan karna aku membawa agin melankolis pada sisa malamku ini
hanya saja rasa kantuk itu bahkan kini enggan singgah

hh...padahal langit sudah memberikan hawa sejuknya
dan perut juga sudah terisi hampir penuh
tapi satu pikiran membuatku tetap terjaga
memandangi beberapa sosial media dan memperhatikan blog yang sedikit peminatnya ini
hey, apakah aku sekarang berbicara sendiri,
ah mungkin aku sedikit tidak waras
but well, aku baik saja
hanya saja, ini tentang sesuatu

Jumat, 17 Mei 2013

coffee and guitar

Untuk Uuty : you never know exactly the truth, but believe me, something better to be unknown until the right time. Then i'm kinda make my crazy imagination for you :), hope you like this



" Heh neng, pagi-pagi udah kopi aja. Telur tuh jangan dianggurin. " Jean menggerutu pada Renata yang sedang menyeruput cappuccino nya pagi ini.
" What do you expect from someone who didn't sleep for three days ?" Renata mencari alasan untuk cappuccinonya
" Some sleep, i guess. Masak kamu mau jadi kelelawar gini terus sih Ren, kelelawar aja tidur paginya, lah elu, jangankan tidur, ngedip aja jarang. Hahaha "
" Sial. Yuk ngampus." Renata meresap cappuccinonya hingga habis lalu menuju garasi tempat mobil Jean terparkir rapih. Batinnya mengumpat ayahnya yang belum mengijinkannya untuk mengendarai mobil sendiri.
***
" Ren, catetan biodata udah selesai belum ?" Billy, ketua angkatan mereka sudah menagih tugas Renata yang tempo hari ia berikan.
" Nih" Renata menyodorkan beberapa lembar kertas begitu saja. Tentu saja dia menyelesaikannya, untuk apa dia tidak tidur beberapa hari hanya untuk bengong melihat bulan. Terlihat seperti vampire yang galau.
" Thank you Renata" Billy melenggang pergi, Renata tidak terlalu memedulikannya. Kepalanya sangat pusing, kopi mulai melakukan tugasnya, membuatnya deg-degan tidak jelas. Tapi, ia sudah biasa dengan kopi.
Deni melenggang duduk di samping Renata tanpa permisi. Membuat Renata sedikit kebingungan.
" Tumben duduk disini." Renata mulai mengkritik tindakannya.
" Kamu yang tumben. Biasanya kamu duduk di sisi sana. Aku sih biasa duduk di sini." Deni menunjuk barisan Jean duduk.
" Hm..aku sudah 2 hari duduk di sini. Mungkin karena kamu ngga masuk jadi ngga tau ya. Okey aku pindah aja." Renata menenteng tasnya dan duduk sembarangan di sebelah Jean.
" Kok pindah ?" Jean mengerutkan keningnya.
" Kamu mau komen aku juga. Kamu mau suruh aku pindah, lagi?"
" Kok marah sih Ren,santai ajalah." Jean melihat tempat awal Renata duduk, lalu mengangguk-angguk.
" Well, you see now why i need to move."
" Sort of." Jean diam saja. Deni memang terlihat menawan, tapi sikap acuh dan cueknya membuat beberapa rang memutuskan untuk tidak berurusan dengannya.
***
" Nih." Jean melempar obat tidur ke atas meja Renata.
" Buat apa ? "
" Apa yang kamu harapkan dari seorang teman yang sudah liat temannya ngga tidur 3 hari ? "
" Hm..buy me more coffee maybe." Renata mengambil obat tidur yang diberikan Jean dan menyimpannya di tasnya.
" Pulang ? "
" Yeah. " Mereka pulang dan Renata berharap obat tidur yang ada di tasnya berhasil membuatnya lelap malam ini.
***
Renata tidur seharian, yang ia ingat terakhir kali adalah ia makan masakan Jean yang agak sedikit gosong tadi siang. Setelah itu ia tidak ingat apa-apa lagi dan saat membuka mata, kamarnya sudah gelap gulita, di luar juga sepertinya sudah gelap.
" Tahun berapa sekarang Jean ? " Renata menggaruk kepalanya yang tidak gatal menuju ruang tengah tempat Jean sedang menikmati serial tv favoritnya.
" Masih di tahun yang sama saat kamu minum obat tidurku tadi siang. Kamu pikir kamu hibernasi ? "
  " Arrggghhh...syukurlah. Kukira aku sudah tidur beberapa abad. Obat tidurmu berhasil ternyata Jean. Err..sudah jam 8. " Renata miris melihat jam dinding.
" Hey, kita makan diluar, ada tiket gratis. " Jean menunjukkan 2 tiket gratis di tangannya.
" Whatever. Yang penting lambungku terisi. Aku mandi dulu sebentar. " Renata meninggalkan Jean yang masih asyik dengan serial tv nya.
***
" Kita ngga pernah kesini kan ? Kok tumben ? Kamu baru dikirimin uang Jean ? "
" Nope. Kan aku tadi sudah bilang dapat tiket gratis. " Renata memutar bola matanya tanda ia lupa. Mereka berdua masuk sebuah cafe yang terlihat cukup eksklusif. Jean lalu memberikan tiket yang ia bawa ke pelayan. Dari jauh seseorang menghampiri mereka dengan senyumnya, Deni.
" Hey Jean. Dipake juga nih tiket gratisnya. "
" Iyalah. Udah dikasih masa' ngga dipake sih. Kapan nampil nih ? "
" Entar lagi. Aku kirain kamu bakal ngajak pacar. Ngga taunya Renata. " Deni melirik ke arah Renata yang sedari tadi memperhatikan pintu masuk.
" Kenapa ? Masalah buat kamu ? "
" Ngga usah sewot Ren. Thanks udah datang. Enjoy your night ya. Aku mau siap - siap di belakang panggung dulu. " Deni meninggalkan Jean dan Renata.
" Kamu ngga bilang dia yang ngasih tiket gratisnya. " Renata kini sewot pada Jean.
" Kamu kan ngga nanya Ren. Katamu yang penting lambungmu keisi kan. " Jean cekikikan sendiri melihat Renata yang sewot sendiri.
Deni naik ke panggung. Memulai memainkan gitar. Ia membawakan satu musik yang beraliran jazz. Merdu dan indah, hingga cukup membuat Renata terkesima. Ia seperti mendengarkan lagu-lagu favoritnya secara live. Deni membawakan lagunya sangat baik dan menghipnotis Renata dengan permainannya.
***
" Ren, gimana aku tadi malem ? " Deni langsung menyodorkan pertanyaan saat Renata baru duduk di kursi kuliahnya.
" Hm...well, kamu seperti...manusia. " Renata bohong. Padahal semalaman ia tidak bisa tidur karena suara gitar dari Deni.
" Bukan itu Ren. Maksudku main di panggungnya, bagus ngga ? "
" Hm...gitulah. " Renata mulai gugup dengan sikap ngotot Deni.
" Ah, ngga asik gitu Ren. " Deni bangkit dan meninggalkan Renata. Renata menghembuskan napasnya dengan lega. Bodoh sebenarnya karena menyia-nyiakan kesempatannya untuk bisa ngobrol dengan Deni. 'Hm..wait. Kenapa aku butuh ngobrol dengan Deni ? '
" Renata...Renata...Kalo bagus, bilang aja napa sih ? " Jean menyadarkan Renata dari lamunannya.
" Darimana juga kamu dapet teori kalo aku suka permainannya tadi malem ? "
" Ngga kedip sama sekali itu cukup menjelaskannya Ren. "
" Sejelas itukah ? "
" Banget. Kamu ngga suka banget ya sama Deni ? "
" Hm...i don't know. Aku hanya ngga mau dia tau kalo dia berbakat dalam bermain gitar. " Renata sudah mulai membuka novel yang sedari tadi ia pegang. Jean menyerah untuk ingin tau dan memilih untuk menerima jawaban diplomatis Renata.
***
Beberapa minggu terakhir Deni sering berada di dekat Renata. Entah itu memberinya tiket gratis atau tiba-tiba duduk di sebelah bangkunya untuk sekedar bermain tablet miliknya. Renata tidak pernah mengusir Deni untuk pindah, ia lebih memilih tidak peduli atau pindah. Deni yang badannya sangat terawat itu benar-benar sudah mengganggu penghantaran saraf di otaknya.
" Jean " Renata datang tiba-tiba ke ruang tengah tempat Jean berada dan spontan membuatnya kaget.
" Apasih Ren ? Bikin kaget deh. "
" Aku kayaknya sudah sedikit gila. " Kini Renata sudah duduk di sebelah Jean.
" He ? " Jean mengangkat satu alisnya.
" Beberapa hari terakhir aku terganggu dengan kehadiran Deni. "
" Bukannya udah dari dulu ya ? "
" Bukan 'terganggu' yang seperti itu. "
" Terus ? "
" Hm...i don't know. Err...sepertinya aku mulai suka deh sama dia. "
" WHAT ?" Jean berteriak cukup keras, membuat Renata meringis.
" I'm not really sure. Tapi, aku bahkan suka bau parfumnya. Aku suka saat dia bermain gitar dengan asal-asalan di tempat duduknya. Aku benci harus mengakuinya. Entahlah Jean. "
" Hm...bukannya kamu sedang suka dengan Kak Romi ya ? "
" Iya. Tapi kan aku sudah pernah cerita kalau Kak Romi tidak tertarik sama sekali dengan pacaran, lagian dia juga sebentar lagi wisuda Jean. "
" Yaudah, kalau gitu silahkan ajalah deketin Deni. Hihi "
" Tapi Jean, dia juga dekat sama Emil. " Renata mulai ragu karena Emil adalah teman karibnya sejak ia baru bisa membaca dan menulis. Terlebih lagi, Emil yang rupanya seperti bunga mawar di tengah padang rumput, cantik dan menawan.
" Ya..itu terserah kamu sih mau gimana. Jalani yang menurutmu itu baik buat kamu Ren. Kalau kamu sedikit tersesat seperti dulu, aku masih disini kok. Apapun keputusanmu, aku disisimu Ren. " Jean memandang sahabatnya itu dengan senyuman tulus.
Renata memeluk sahabat satu kontrakannya ini. Teringat dulu Jean lari tergesa-gesa ke rumah Renata saat mendengar ia putus dari pacarnya, Davi. Namun kini Renata bingung, ia tidak bisa memutuskan sisi yang mana yang harus ia pilih. Ia tidak yakin Deni melihatnya lebih dari teman, kalaupun ia mau berusaha untuk mendekati Deni, ia tidak bisa menyakiti Emil begitu saja. Dan akhirnya Renata akan memutuskan esok saat ia menyelesaikan kopi paginya.
***
" Renata. " Deni menyorkan 2 lembar kertas pada Renata.
" Apa ini ? "
" Tiket gratis. Lumayan kan buat kalian. "
" Kenapa ngasih ke aku ? "
" Hm..well, entahlah. Aku pingin aja. Kamu bisa datang bareng Emil atau Jean. " Senyum Deni mengembang sempurna di wajahnya.
" Kok kamu ngga mention pacar dipilihannya. "
" Aku yakin kamu ngga punya pacar sih. "
" Sok tau. "
Deni tidak peduli jawaban terakhir Renata, ia sudah duduk rapih di samping Renata dan bermain dengan tabletnya. Renata gugup, ia senang, tapi juga biasa saja. Kadang, ia berpikir kalau Deni itu punya dunia sendiri dimana orang lain tidak bisa masuk ke dalamnya. Tapi kadang, Deni menjadi sosok sosial yang menyenangkan. Dan Deni, punya badan yang bagus, proporsional, pas dengan baju apapun yang dia kenakan, entah itu kaos atau kemeja, entah itu celana basket atau jeans.
***
Emil yang menemani Renata malam ini. Jean sedang asyik dengan pacar barunya, ia tidak bisa menemai Renata.
" Serius Deni ngasih tiket gratis ke kamu ? Kok bisa ? "
" Ngga tau deh Mil. Yaaahh...yang penting makan gratis lah. Haha. " Renata menyembunyikan tujuannya selain makan, memperhatikan Deni tampil di atas panggung.
" Hm...Mil, aku mau pengakuan nih. " Renata memulai dengan ragu-ragu, takut akan tanggapan Emil nantinya.
" Apa ? "
" Hm...menurut kamu, terlihat bodoh ngga kalau aku suka sama Deni ? " Renata sedikit berbisik mengucap nama Deni.
" Ahahahaha. Ngga lah Ren. Itu hak kamu mau suka siapa aja dan ngga ada rasa suka yang terlihat bodoh. Kecuali kamu suka sama abang bakso yang sering lewat depan kontrakanmu sih, itu terlihat, emm aneh. "
" Tapi kan terlihat tidak sepandan. "
" Apanya yang ngga sepadan ? Kalian kan satu kelas, itu artinya kalian sama. Semua manusia sama Ren dimata Tuhan. Jadi santai ajalah. "
" Tapi, aku ngga yakin dia tertarik sama aku. "
" Tau darimana coba ? Kamu emang pernah nanya ke dia ? "
" Ngga mungkin lah. "
" Nah...kalau gitu ngga ada yang tau kan. "
Renata menimbang-nimbang perkataan Emil, ada benarnya. Dia terlalu takut dengan perasaannya ke Deni, padahal dia tidak pernah tau kemungkinan yang ada dari Deni untuk dia. Malam itu, Renata terhipnotis dengan permainan Deni, lagi.
***
Hari ini rencananya Emil, Deni, dan Renata makan malam bareng di rumah makan milik keluarga Emil. Dulu Renata sering makan di sini bersama keluarga Emil namun semenjak ia berbeda kampus dengan Emil, sudah semakin jarang ia makan diluar barng Emil lagi.
" Udah lama ? " Suara Deni mengagetkan Renata yang sedag asik membaca novel.
" Hm..ngga juga. " Renata membalas ala kadarnya dan matanya tidak berpindah sedikitpun dari novelnya.
Deni memilih duduk di sebelah Renata dan langsung asik dengan tablet miliknya. Mereka berdua tampak seperti dua orang yang asing yang kebetulan harus duduk pada meja yang sama karena rumah makan yang ramai, padahal saat itu hanya ada beberapa pengunjung yang datang. Beberapa menit kemudian Emil datang, dengan seseorang.
" Hai, udah pada lama ya ? " Emil menyapa keduanya yang tengah asik dengan kesibukan masing-masing.
" Ngga juga." Renata dan Deni menjawab hampir pada waktu bersamaan.
" Kalian serasi banget sih sampe jawab barengan gitu. Eh iya, aku bawa temen ngga papa ya ? "
Renata dan Deni melihat seseorang yang bersama Emil. Tubuhnya yang tinggi tidak kalah bagus dari tubuh Deni, wajahnya sedikit blasteran, dan mukanya menyiratkan bahwa ia adalah seseorang yang baik hati. Dia tersenyum saat Emil memperkenalkan dirinya, namanya Mark. Setelah mereka resmi saling kenal, situasi selajutnya adalah mereka menunggu dengan tidak sabar makanan datang sambil bersenda gurau bersama. Namun selama situasi itu terjadi, Renata sering sekali mecuri pandag pada wajah Deni. Ia memperhatikan apakah Deni cemburu dengan Emil yang datang dengan seorang pria atau tidak. Tapi tidak ada kesimpulan yang bisa didapatkan oleh Renata, Deni terlalu pintar menyimpan ekspresi aslinya dibalik tawanya yang terdengar cukup kencang malam itu.
Masing-masing dari mereka puas dengan makanan yang mereka santap malam ini. Porsi yang disediakan juga cukup membuat mereka kenyang walaupun tidak sampai merasa penuh.
" Ren, kamu tadi kesini naik apa ? Pinjem mobil Jean ? " Emil bertanya sambil masih mengaduk jus alpukatnya yang tinggal setengah.
" Oh, ngga, tadi aku nebeng sama Jean. Kebetulan tadi dia mau ke supermarket. "
" Terus pulangnya gimana ? Dijemput Jean juga ? "
" Ngga nih, belum tau, naik taksi mungkin, hehe." Renata cengengesan dengan jawabannya, padahal dalam hati ia sama sekali tidak tau cara ia pulang ke rumah bagaimana.
" Hm..ikut aku aja yuk. Aku anter, Mark juga pasti ngga keberatan. Iya kan Mark ? " Emil menoleh pada Mark yang sedari tadi ikut memeperhatikan perbincangan mereka, atau mungkin memperhatikan Emil.
" Iya, boleh aja. " Mark menjawabnya dengan lugas ditambah sesungging senyum tampan miliknya.
" Ngga usah deh. Aku kan ngga bakat jadi obat nyamuk, hahahaha. "
" Sialan. Siapa bilang kamu obat nyamuk. Udah bareng aku aja. "
" Ngga usah deh. Kalo kamu ngantar aku kan harus muter dulu, sedangkan rumah kamu kan cukup jauh Mil. "
" Hm...yauda, Den, anterin Rena ya. " Emil langsung menyodorkan pernyataan gamblang itu pada Deni. Yang disinggung tersedak spontan.
" Ha ? Kok jadi gue ? "
" Ya...kan ngga papa Den. Lagian rumah kamu ngga terlalu jauh dari rumah Rena kan ? "
Deni hanya mengangguk saja, tidak ada gunanya berdebat dengan Emil, karena pada akhirnya Deni akan mengiyakan semua permintaan Emil.
  "Aku titip Rena ya. Awas lho kalo dia ngga selamat sampe rumah. " Emil sudah mengacung-acungkan pisau steaknya yang disodorkan pisau hanya tersenyum jahil, dan itu kontan membuat bibir Emil mengerucut. Deni hanya tertawa melihat muka Emil yang berubah lucu seketika itu.
Renata tidak pernah berencana bahwa ia suatu hari akan naik mobil Deni. Dulu ia pernah bercita-cita naik mobil Kak Romi dan itu tidak pernah terwujud hingga ia patah hati karena toh ternyata Kak Romi tidak pernah melihatnya. Dalam perjalanan mereka sedikit sekali ngobrol, hanya hal-hal kecil yang mereka bicarakan seperti musik kesukaan mereka - yang kebetulan mereka memiliki selera yang sama- ataupun tentang perkuliahan mereka yang semakin padat jadwalnya mengingat mereka sebentar lagi ujian akhir semester.
Renata sudah sampai di rumah, Jean sudah tidur karena saat ia datang, rumah sudah dalam keadaan gelap. Deni mengantarkannya sampai ke depan rumah walaupun pada awalnya Renata menolak. Malam itu Renata kembali tidak bisa tidur ia masih menebak-nebak apakah Deni cemburu saat Emil datang bersama Mark tadi atau tidak. Dan nyalinya yang tidak cukup banyak juga membuatnya tidak berani untuk menanyakannya langsung pada Deni.
***
Renata mulai sibuk mempersiapkan diri untuk ujian akhir semesternya. Jean juga melakukan hal yang sama. Kini tidak hanya Renata yang terbangun sampai subuh, tapi Jean juga. Terkadang Deni datang ke kontrakan mereka untuk belajar bersama. Renata semakin dekat dengan Deni, tapi tetap saja ia tidak banyak tau tentang Deni. Mereka memang sering bercanda bersama atau ngobrol bareng di kelas. Tapi di luar itu, mereka tidak pernah berkomunikasi sedikitpun entah itu chatting atau sms. Renata bahkan tidak tau nomer handphone Deni.
" Jean ? " Renata mulai angkat bicara saat sepi tengah menyergap mereka yang sibuk dengan bahan bacaan masing-masing.
" Hm.." Yang disebut namanya hanya menjawab ala kadarnya tanpa mengalihkan pandangannya dari buku kuliahnya.
" Ngga jadi deh, nanti aja. " Melihat Jean yang sibuk Renata mengurungkan niatnya untu bertanya. Renata kembali ke bukunya, namun pikiran itu tetap mengganggu konsentrasinya. Jean yang cukup tau arti dari setiap ekspresi wajah Renata lalu menutup bukunya dan berbalik memandang Renata.
" Kenapa Ren ? " Tanya Jean halus pada Renata seraya menyeruput kopinya yang mulai dingin.
" Aku mau berhenti suka sama Deni kayaknya. "
" Eh ? Seperti saat kamu bilang mau berhenti memperhatikan Kak Romi tapi kamu bahkan tau kapan dia maju sidang untuk skripsinya ? "
" Literally Jean. Dunianya susah untuk dimasuki. Bahkan aku ngga pernah tau apa dia punya perasaan untuk Emil atau salah satu teman kita di kelas. " Muka Renta mulai menyiratkan muka desperate nya.
" Ren, menurut aku rasa suka itu ngga bisa disuruh stop gitu aja. Ada sistem di otak kita yang tidak mengindahkannya. Bahkan orang pacaran yang putus aja bisa balikan lagi. Itu artinya kamu ngga bisa bikin lampu merah tiba-tiba untuk perasaanmu. Tapi, well Ren, sometimes life is crap. Tergantung kamu mau nanggepinnya gimana. Kamu yang punya keputusan untuk hidupmu sendiri Ren, aku disini cuma sebagai orang ketiga dalam hidupmu."
Jean kembali ke bukunya. Renata juga kembali ke bukunya, namun pandangannya kosong. Ia membenarkan beberapa perkataan Jean karena dia pasti tidak akan bisa menolak tiket gratis yang dikasih Deni, walaupun tiket itu akan mengantarkannya pada kekaguman yang bertambah kepada Deni.
***
Tahun terakhir diajalani dengan banyak pikiran stres. Mulai dari mencari tempt magang sampai mengerjakan skripsi yang selalu bisa menyita waktu. Deni tetap seperti dulu pada Renata. Suka duduk tiba-tiba di sebelah Renata, sering memberikan tiket gratis pada Renata walaupun kebanyakan Renata tolak dengan alasan ia sibuk mengerjakan skripsinya. Terlebih Renata sudah mulai magang di suatu perusahaan sebagai Human Resources Department mereka. Jean masih tetap dengan pacaranya dan ia juga masih setia menemani Renata, walaupun Renata kini sudah dibelikan mobil oleh ayahnya namun bagi Jean, lebih baik menggunakan satu mobil saja kalau memang urusannya bersamaan.
Wisuda merupakan salah satu kejadian bersejarah dalam hidup. Karena dari situlah dimulai kehidupan yang baru, kehidupan yang benar-benar memaksa diri kita untuk jalan dengan kaki sendiri. Wisuda kampus dilaksanakan siang ini, di aula kampus yang memang mewah dan besar. Renata lulus dengan cumlaude, Jean dan Deni tidak kalah juga. Renata sudah mendapat tawaran pekerjaan yang langsung ia sanggupi dengan menjadi staff di sebuah perusahaan di Bandung. Sedangkan Jean memutuskan untuk melanjtkan S2 langsung di sebuah universitas di luar negri, terlebih karena ia mendapatkan beasiswa untuk kesana. Dan Deni, Renata hanya pernah dengan bahwa Deni mendapat pekerjaan di Yogyakarta. Renata tidak pernah tau kebenarannya, ia tidak mau mempersilahkan dirinya untuk bertanya. Dan apa yang Jean katakan tahun lalu itu benar bahwa ia tidak bisa tiba-tiba memberhentikan perasaannya pada Deni, bahkan sampai sekarang. Tapi ia memilih untuk mundur beberapa langkah untuk membiasakan diri tanpa Deni.
***
Hari ini genap satu tahun Renata bekerja di Bandung. Tempo hari dia skype dengan Jean yang bercerita panjang lebar soal ia dilamar oleh pacarnya. Iya, Jean akan menikah dnegan pacarnya dulu saa ia dan Renata masih sebagai mahasiswi. Tadi pagi ia dapat kejutan dengan kedatangan Emil yang tiba-tiba mengingat Emil juga seperti Jean yang melanjutkan S2 di luar negri. Dan disinilah mereka, di sebuah rumah makan khas masakan Bandung untuk makan siang bersama.
" Gimana Ren kerja disini ? " Emil bertanya dengan tetap konsentrasi pada nasi liwetnya.
" Hm..nyaman Mil, aku bahkan udah ditawarin mau lanjut S2 di universitas terdekat atau ngga. "
" Terus kamu terima ngga ? "
" Iyalah Mil, aku ngga mau ketinggalan sama kamu dan Jean, awal tahun ajaran nanti aku udah masuk. Kamu gimana disana ? Pasti Paris keren banget deh. "
" Keren sih. Banyak objek bagus tiap hari yang bisa dijadiin inspirasi tugas. Hehe " Emil memang harus punya banyak inspirasi baru mengingat ia menggeluti dunia interior design.
" Haha..Tapi aku yakin banget kangenmu sama nasi pasti gede banget. Itu nasi liwet sampe tercerai berai gitu, haha. "
" Iyalah Ren, aku jarang makan nasi sih di sana. ohiya, Deni gimana ? " Emil tiba-tiba menanyakan pertanyaan yang bahkan Renata tidak tau mau jawab apa.
" Gimana apanya ? "
" Ya..kabar dia sekarang. Kalian kan bareng-bareng di Indonesia, masa ngga saling ngasih kabar sih ? "
" Ngga Mil, yang aku tau terakhir sih, dia dapet kerjaan di Jogja, ngga tau dia terima atau ngga. " Renata sudah semakin gugup dengan topik pembicaraan yang diangkat Emil.
" Hm..gitu. Kamu masih suka kan sama dia ? " Renata kontan tersedak dengan pertanyaan gamblang Emil.
" Kan aku dulu udah pernah cerita Mil kal aku mau nyerah aja. "
" Yaaahh...kali aja kamu berubah pikiran. "
" Hhh...ngga Mil. Emang lebih baik aku berada di luar dunianya, karena toh aku tidak pernah benar-benar masuk ke dunianya. "
" Ada nanti saatnya kamu dapat yang terbaik Ren. Percaya deh. " Emil menjawab dengan nada diplomatis.
" Yah, mungkin. "
" Eh iya, entar malem makan bareng lagi ya. Ada satu rumah makan yang mau aku datengin, kata mama sih tante Eri buka rumah makan di Bandung. " Keluarga Emil memang banyak yang pengusaha, dari pengusaha kain sampai pengusaha berlian.
" oh iya gitu ? Waaahh...aku harus coba juga nih. Yuk boleh, pake mobilku aja, yang tau bandung kan aku, haha. "
" Huu..sementang udah punya mobil sekarang. "
Mereka berdua menyelesaikan makanan mereka dan Renata harus kembali ke tempat kerjanya.
***
" Tanteeeee .... " Emil langsung menghampiri tante Eri saat ia dan Renata tiba di rumah makan miliknya.
" Hei.." Tante Eri adalah orang yang ramah, Renata sempat dulu beberapa kali bertemu dengannya saat kebetulan Tante Eri berkunjung ke rumah Emil
" Apa kabar tante ? "
" Baik.. Kamu apa kabar ? "
" Baik doongg..."
" Eh, ada Rena. Apa kabar ? " Tante Eri menyapa Rena yang sedari tadi diam memperhatikan keakraban Emil dan Tantenya.
" Baik tante. "
" Tan, Rena kerja di Bandung juga lho.."
" oh iya ? Sering-sering main ke sini ya Rena. "
" Hm..iya tante "
" Yaudah, kalian duduk dulu gih, tante masih ada yang diurus dulu. "
Setelah itu Renata dan Emil sudah memilih tempat duduk strategis di dekat panggung. Di rumah makan ini biasanya ada beberapa tamu yang mau menyumbangkan suaranya di depan pengunjung, entah itu suara yang bagus atau suara yang pas-pasan.
Renata menatap panggung yang kosong itu dengan tatapan menerawang. Ia teringat saat dulu ia mendapat tiket gratis dari Deni. 'Hah..Deni lagi'. Renata mendesah perlahan, di sudut hatinya ada satu titik yang mengatakan bahwa ia ingin sekali lagi melihat Deni bermain dengan gitarnya, mungkin bisa dikatakan ia, kangen.
" Hm...Ren, kalau Deni nembak kamu, kira-kira kamu terima ngga ? " Pertanyaan tiba-tiba itu sontak membuat Renata tersedak.
" Ha ? Kamu kenapa sih Mil, daritadi siang nyinggung Deni mulu. "
" Ya...kan ngga papa, aku pingin tau aja, terima ngga ?"
" Kalau dulu, mungkin aku terima Mil. "
" Kalau sekarang ? "
" Entahlah, kan aku sudah bilang mau berhenti menyukainya. "
" Berarti masih ada kemungkinan kan ? "
" Udah deh Mil...Kamu punya rencana apa sih ? "
Emil hanya tersenyum jahil atas pertanyaan Renata. 'You'll see..' Hanya itu kata-kata yang terlintas dalam hati Emil.
Hari semakin larut, makanan Renata dan Emil sudah berpindah dari piring ke perut liar mereka berdua. Mereka masih menikmati minuman mereka masing-masing saat seseorang membawa gitarnya naik ke atas panggung.
" Selamat malam semuanya. "
Renata kenal suara itu, suara yang dulu pernah ia kagumi. Ia menghentikan mengaduk jusnya dan melihat ke panggung, dan ya, lelaki itu di sana, masih dengan badan bagusnya, sudah duduk manis pada bangku tinggi sambil memegang gitar, dia Deni.
" Deni " Renata menyebut nama pria itu pelan, ia mengalihkan pandangannya pada Emil memberikan wajah tanda tanya, Emil hanya mampu tersenyum mengingat rencananya akan berjalan mulus.
" Terima kasih buat Tante Eri yang mempersilahkan saya untuk menggunakan panggung ini, dan terima kasih juga buat untuk Emil yang sudah memberiku rencana brilian. Satu lagu ini khusus aku bawakan untuk seseorang yang telah lama kusuka yang tidak pernah tau bahwa bukan ia yang meyukaiku terlebih dahulu, tapi aku yang tertarik padanya sejak awal. "
Dan permainan gitar Deni mengembalikan lagi perasaan Renata yang sudah lama ia kubur dengan rapih. Suara Deni yang walaupun agak pas-pasan tetap membuat Renata terpaku pada tempatnya. Lagu itu, Pilihanku miliknya Maliq n d'essential, mampu menghipnotis Renata. Dan di akhir lagu, semua rasa itu memenuhi hatinya, ia merasa gagal untuk memberi lampu merah untuk perasaannya.
" Well, Renata Alfisiera, will you marry me ? " Deni memandang Renata dengan tatapan intens. Dan Renata dengan kedua matanya yang kosong menatap Deni yang ada di atas panggung. Emil menyenggol sahabatnya itu untuk menyadarkannya bahwa ia tidak sedang bermimpi. Deni sepertinya belum puas dengan pernyataan dari atas panggung yang mampu membuat semua orang memperhatikannya, ia kini sudah berada di depan Renata, dan dia, berlutut.
" Renata Alfisiera, aku tanya padamu sekali lagi, will you marry me ? " Deni membuka kotak kecil itu, berisi cincin.
Renata masih diam, setetes air matanya jatuh diikuti dengan anggukan pelan darinya. Dan seketika itu Deni tersenyum menang seraya memeluk wanita yang telah lama ia sukai itu.
***
Dalam perjalanan pulang, Renata memberikan semua pertanyaan yang selama ini mengganggu pikirannya.
" Apa maksudmu kamu yang tertarik padaku sejak awal ? "
" Hm...memang ia. "
" Tapi kan ... "
" Ren, coba kamu pikir deh, kenapa aku ngasih tiket gratis pertama kali ke Jean ? "
" Entahlah, kamu iseng. "
" Nope. Karena aku tau, satu-satunya orang yang bakal diajak Jean adalah kamu. Karena memang tujuanku adalah supaya kamu hadir. "
" Terus kenapa ngga ngasih langsung ke aku aja ? "
" Kamu ngga ingat kamu marah sama aku gara-gara tempat duduk itu ya ? Mana mungkin kamu mau nerima tiket gratisnya kalau kamu masih marah sama aku. "
" Terus, kenapa kamu ngga nembak aja dari dulu ? "
" Hhh..Aku takut kamu tolak sih. Aku ngga tau kamu juga sebenarnya suka sama aku, aku baru tau waktu tempo hari ketemu sama Emil terus Emil cerita dan muncullah ide yang tadi. "
" Arrgghh..Emil. " Renata merasa malu rahasinya bocor dari mulut sahabatnya sendiri.
" Yaudah, it doesn't matter know, right ? "
" Hm..looks like. " Renata memandang kembali cincin yang tadi diberikan oleh Deni.
" So..we're going to be married huh ? " Deni sudah menghentikan mobil Renata di depan kosnya.
" Yeah, just let's get married. Kamu bawa aja mobilnya, besok anterin aku ke kantor. "
" Sip bos. " Renata sudah turun dari mobil dan menuju rumah kost nya.
" Hei ada yang ketinggalan. " Deni mengejar Renata yang baru saja membuka pintu pagar.
" Apa lagi ? " Dan ketika itu, Deni mendaratkan kecupan mesra di dahi Renata yang seketika itu membuat Renata salah tingkah.
" Good night. " Senyum Deni mengembang, dan Renata, saat itu juga menganggap bahwa tidak apa-apa mulai saat itu untuk membiarkan lampu hijau selalu menyala di hatinya.