Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Desember 2013

Sebuah Origami


Bee's pov
                Aku suka origami. Membuat origami adalah candu bagi hari-hariku. Awalnya hanya iseng membuat kapal-kapalan sederhana, tapi semakin lama semakin penasaran dengan bentuk lainnya. Dan sekarang, origami kesukaanku adalah bentuk burung. Sekarang, origami-origami itu menyimpan setiap rahasiaku didalamnya, rahasia yang tidak pernah kuceritakan pada siapapun, bahkan teman dekatku, Rena.
                " Bee, kenapa sih ? " Rena membuyarkan lamunanku.
                " Eh, ngga, ngga kenapa-kenapa kok. "
                " Ngga kenapa-kenapa sih, tapi melamun. Ada apa sih ? Ari ya ? "
                " Kok jadi Ari sih ? "
                " Ya..habisnya kan kamu lagi suka dia, kalau kamu melamun, wajar aja dong kalo aku nyebut dia sebagai penyebab utama. "
                " Kemarin Ari ngajak aku makan malam. "
                " Tuh kan bener. Terus ? "
                " Yaudah, makan malam aja. Kita habis belajar bareng sama yang lain, terus dia nganterin aku pulang, dijalan dia ngajak makan, yaudah ayok aja. "
                " Terus ? "
                " Kok terus mulu sih Ren ? "
                " Yah...kali aja ada kemajuan kan. "
                " Hh..ngga semudah itu kali Ren. Kamu kan tau Ari tuh orangnya kayak ngga bisa disentuh gitu, hidupnya itu kayak punya budaya sendiri yang ngga semua dari kita bisa ikut masuk didalamnya. "
                " Mungkin dia keturunan makhluk dari Mars kali Bee, makanya dia kayak gitu, hahaha. "
                Aku tertawa keras karena candaan Rena yang agak aneh. Aku suka Ari. Aku menyukainya sejak ia membantuku mempersiapkan minuman saat satu angkatanku darmawisata. Dia adalah orang yang mengisi lembar-lembar origamiku setahun terakhir ini. Tapi Ari tidak tersentuh. Dia adalah orang kasat mata yang tidak bisa ditebak suasana hatinya. Aku pernah beberapa kali mengatakan untuk menyerah terhadap dirinya pada Rena, tapi lagi-lagi, aku tidak bisa menyalahkan mataku kalau aku masih sering mencuri pandang terhadapnya.
***
Yoga's pov
                Aku tidak pernah suka acara menggosip diantara wanita. Aku merasa duniaku terusik oleh celotehan mereka.  Bukannya aku tidak bisa cuek pada apa yang mereka perbincangkan, hanya saja, that's someone's life and it's none of your business.
                Beberapa kali aku mendekati seseorang, tapi pada akhirnya aku yang memutuskan untuk mundur. Kebiasaan mereka untuk mencampuri urusan satu sama lain membuatku sedikit terusik. Karena ini kehidupanku. Dan keterpengaruhan mereka satu sama lain membuat beberapa orang yang kudekati lebih sering membawa pandangan temannya terhadapku dibanding pandangannya sendiri.
                Wanita yang satu ini adalah seorang wanita yang mandiri. Pemikirannya dewasa, ia memang banyak diam, tapi, otaknya tidak pernah berhenti bekerja. Menjadi panitia ini lah, ngerjain itu lah, ngurusin ini lah, dan banyak kegiatan dia yang bahkan aku sendiri tidak bisa mengimbanginya, padahal dia perempuan dan aku laki-laki.
                Aku mendekatinya pelan-pelan. Dari mulai bertanya tugas, sampai aku berani bercerita tentang kehidupanku padanya. Bukan untuk hal khusus, hanya saja, sosok dia yang bisa menyimpan rahasia rapat-rapat, membuatku tenang. Aku mulai sering curi pandang hanya untuk sekedar memastikan bahwa dia baik-baik saja, dan kalau dia butuh bantuan, maka tanganku yang akan langsung bekerja, tanpa aku harus berbicara. Tapi, ada perasaan gusar yang membuatku sedikit tidak tenang akibat kejadian tadi malam.
                " Ga, mau ikut ngga entar malem ? "
                " Apaan ? "
                " Biasa, belajar bareng yang lain, habis itu paling nongkrong. "
                " Hm..boleh deh, kebetulan ada yang belum gue pahamin. "
                " Yaudah, entar jam 7 yah, ditempat biasa, rumah gue. Hehe. "
                " Iya deh, siapa aja yang ikut ? "
                " Banyak. Noni, Ari, Bee, Caca, Malik. Banyak dah pokoknya. "
                " Yadeh, entar  gue kesana. "
                Aku ngga peduli siapa aja yang datang sebenarnya, aku hanya ingin tau apakah Bee datang atau tidak. Karena, rasanya lega sekali kalau dia datang.
                Malamnya aku datang ke rumah Ergi. Yang lain sudah pada datang. Di sana Bee duduk, disebelah Ari, sedang asik main Ipad milik Ari.
                " Dateng juga akhirnya lu Ga. Dibilangin jam 7, lu datengnya jam 8. "
                " Sori, tadi gue ada yang dikerjain dulu. "
                " Yaudah, lu ngga paham apa, nanya aja sama siapa aja yang ada disini boleh kok. "
                Aku mengangguk, mengambil tempat duduk di sebelah Ari. Bee tidak sadar kehadiranku, dia masih asik dengan barang canggih milik Ari. Aku bertanya beberapa hal pada Ari, karena menurutku Ari termasuk jajaran anak pintar di kelas. Saat ada pertanyaan yang ia tak bisa jawab, ia bertanya pada Bee, dan pada akhirnya Bee melihatku.
                " Lho ada Yoga, kapan datang ?"
                " 5000 tahun sebelum masehi. "
                " Yaelah, orang nanya baik-baik juga. Gitu aja ngambek. "
                Entah kenapa kegiatannya yang terlalu asik dengan barang milik Ari mengusik diriku dan jawaban ketus itu mengalirkan rasa terusik yang kurasakan dengan sangat baik. Setelahnya Bee menjelaskan beberapa pertanyaan sulit yang tidak dimengerti Ari.
                Hari makin larut, setelah ngobrol kesana kemari, beberapa dari kami memutuskan untuk pulang. Aku tau kalau Bee tidak bawa kendarannya sendiri ke tempat Ergi, mungkin ia minta tolong Rena untuk mengantarnya kesini.
                " Bee, lu pulang sama siapa ? "
                " Belom tau, hehe. Rena mungkin, tapi aku belum nelpon dia sih. "
                " Mau gue anterina aja ? "
                Saat mendengar Ergi menawarkan dirinya, lidahku sudah gatal untuk menawarkan diri juga. Tapi niat itu terdahului. Ari.
                " Sama aku ajalah, sejalan juga. "
                " Hm..bolehboleh. "
                Tanpa berpikir panjang, Bee mengiyakan ajakan Ari. Dari sekian orang, ia memilih untuk diantar pulang Ari. Dan tidak lama, mereka berdua sudah beranjak dari rumah Ergi. Aku masih bertahan di rumah Ergi, suntuk.
                " Bete banget kayaknya lu Ga. "
                " Oh, ngga kok. Agak ngantuk, tapi masih belum mau pulang nih. "
                " Oh..eh, lu kerasa ngga sih kayaknya Ari ada rasa sama Bee, atau Bee yang ada rasa sama Ari. Mereka berdua sering kepergok ngobrol berdua aja. "
                " Urusan mereka. Lu kayak cewe aja deh Gi, ngegosip. "
                Apa yang kuucapkan dengan apa yang kuyakini sungguh berbeda. Rasa suntuk daritadi karena pikiranku liar memikirkan tentang mereka berdua. Harusnya aku biasa saja. Bee hanya temanku. Itu saja. Tidak lama setelah itu aku pamit pulang, mampir sebentar di cafe dan menyeruput kopi hitam karena perasaan dan pikiranku yang kacau. Sms dari Bee sedari tadi kubiarkan tidak terbaca, aku malas.
***
Bee's pov
                Rena tidak pernah tau kalau aku dekat dengan Yoga. Cowok atletis yang punya muka blesteran, yang bisa membuat ratusan wanita menjerit saat ia mulai memainkan bass-nya. Tapi aku menganggapnya teman, tidak sama dengan aku memandang Ari. Meskipun Yoga cukup perhatian kepadaku, tapi tetap saja, Ari lah yang memenuhi pikiranku.
                Yoga adalah tipikal cowo yang tidak suka kalau kedekatan ini dikonsumsi oleh khalayak ramai. Dia adalah tipikal orang yang tidak bisa menjadi public figure. Sebenarnya ingin sekali aku cerita pada Rena, tentang Yoga yang lama sekali membalas smsku, tentang Yoga yang sering mengkhawatirkan diriku, tentang Yoga yang sikapnya lebih perhatian kepadaku dibanding Ari. Tapi tidak bisa, sungguh tidak bisa.
                " Eh Bee, kamu tuh sering senyum-senyum kalo liat hape akhir-akhir ini. Kenapa sih ? " Sifat cenayang Rena mulai bermain.
                " Ngga papa kok. "
                " Smsan sama Ari yaa.. "
                " Kamu percaya ngga kalo aku bilang iya ? " Rena terdiam sejenak, menimbang-nimbang dan jawabannya menyulitkan posisiku.
                " Ngga sama sekali. "
                " Tapi kalo beneran gimana hayoo ? "
                " Kayaknya ngga sih, kan bahasa kalian beda. Hahaha. "
                " Asem banget. "
                " Jadi siapa nih ? "
                " Orang lah Ren, yang tinggal di bumi, pake bahasa indonesia kalo ngomong, bernapas, organnya lengkap, dan sehat walafiat. "
                " Temen seangkatan ya ? " Tuh kan, sifat cenayang Rena paling bahaya emang.
                " Udah deh Ren. Dia ngga mau diketahui. "
                " Kalau ngga mau diketahui jangan tinggal di bumi kalo gitu. "
                " Okay, dia ngelarang aku buat cerita. "
                " Kamu kan emang ngga cerita ke aku. Aku yang nebak. "
                " Terserah deeh. Asal kamu bisa keep secret aja kalo udah tau. "
                " Kapan sih Bee aku ngadain jumpa pers setiap kali kamu cerita Ari pake baju apa, pake sepatu apa. "
                " Yadeh terserah. "
                " Okay aku mulai nebak ya. Kata kunci dong. "
                " Unpredictable person. "
                " Terlalu umum, Ari juga termasuk dong kalo gitu. "
                " Cowo. "
                " Itu juga aku udah tau dari awal. "
                " Dekat sama siapa aja. "
                " Plis deh Bee. "
                " Habisnya aku kan emang ngga bisa cerita ke kamu. Kamu harus bisa nebak sendiri. "
                " Yah, diliat nanti ya. "
                Besoknya Rena membuntutiku di kampus. Bahkan dia yang biasanya males untuk berdiam di perpustakaan mengikutiku juga. Rena adalah tipikal orang yang harus bisa memuaskan rasa penasarannya, jalan apapun yang harus ditempuh, ia lakoni.
                " Aku pulang ya Bee. " Setelah sejam lebih duduk manis di perpustakaan, Rena akhirnya menyerah.
                " Udah nyerah nih ? "
                " Belum kok. Cuma aku udah tau aja siapa orangnya. "
                " Ha ? Masa ? Perasaan hari ini aku ngga ada kepergok lagi sama cowo. "
                " Iya emang. Inget, aku punya indra keenam. Hahaha. " Rena mendramatisir kemampuannya.
                " Siapa coba ? "
                " Keliatan banget, aku cuma kurang peka aja selama ini. "
                " Iya, siapa ? "
                " Yoga Erlangga. " Aku tersentak, mukaku tegang, tanganku gemetar. Rena emang ngga pernah meleset dengan tebakannya.
                " Tuh kan bener. Yaudah, aku pulang ya, kamu mau nebeng ngga ? Atau dianteeeerrr... "
                " Sssstt. Kan aku udah bilang ra-ha-si-a Ren. " Aku sengaja menekankan pada kata rahasia karena ini memang hal urgent yang musti dirahasiain.
                " Iya aku tau kok. Santai aja. Nebeng ngga ? "
                " Ngga, aku bawa mobil sendiri tadi. "
                " Yaudah kalo gitu, duluan ya. "
                Sepeninggal Rena, aku merasa takut kalau Yoga tau hal ini. Aku takut dia marah dan menjauh. Bukan karena aku punya perasaan lebih terhadapnya, hanya saja, dia itu baik dan dia itu perhatian. Jarang ada cowo yang memperlakukan aku seperti dia. Jadi rasanya, wajar aku merasa takut saat ini.
***
Yoga's pov
                Bee sering pulang sore. Saat aku baru selesai latihan band dengan teman yang lain, aku sering masih mendapati dia menikmati lagu di mobilnya sendiri. Aku juga heran kenapa dia tidak sambil pulang saja menikmati musik di mobilnya, toh rumahnya juga cukup jauh. Tapi begitu kutanya kenapa ke dia, jawabannya tidak pernah terpikir olehku,' kalo sambil jalan, entar ngga bisa nikmatin lirik-liriknya, kan lagi fokus sama jalanan yang ada di depan'.
                Bee tidak pernah bisa ditebak. Pernah sekali ia memberiku origami kapal-kapalan saat aku mau pulang, dia bilang untuk jimat di jalan. Tapi aku tau, Bee itu teman yang selalu bisa diandalkan, atau mungkin dia wanita yang selalu bisa untuk dicintai ya?
                Kejadian di rumah Ergi membuatku memerhatikan dirinya lebih sering. Suka terusik setiap kali dia makan sama Ari atau dia ada kegiatan bersama Ari. Aku sadar aku hanya temannya, tapi entah kenapa, Bee itu seperti orang yang semi-wajib untuk aku posesifkan.
                Aku mulai jarang membalas sms dari Bee, bukan karena aku marah, hanya merasa suntuk saja kadang-kadang kalau mengingat dirinya. Kadang dia protes kepadaku yang sering menatap tidak suka ke dia. Bukan karena aku mulai membencinya yang dekat dengan Ari, itu urusan dia, terserah dia. Tapi aku merasa aneh saja. Merasa, aku tidak mau Bee diambil oleh orang lain.
***
Bee's pov
                Yoga akhir-akhir ini aneh. Dia sering jutek padaku. Tidak seperti biasanya. Dia sering mengganti nada smsnya dari bentuk pertanyaan menjadi bentuk perintah. Apa mungkin Yoga tau ya kalau Rena sudah tau soal kedekatan aku sama dia? Tapi Rena itu adalah orang yang pokerface-nya paling bagus seantero kampus. Bisa banget pura-pura ngga tau padahal dia tau banget. Bisa banget pura-pura paham padahal dia no idea sama sekali.
                " Nape lu Bee? Muka ditekuk gitu."
                " Yoga Ren "
                " Kenapa Yoga ? Dia pindah ke Mars ?"
                " Ngga kali. Dia akhir-akhir jutek banget ke aku, jarang banget balas smsku."
                " Bukannya dia emang jarang bales smsmu yah ?"
                " Tapi ngga separah ini, gue ngesms kapan dia balesnya kapan."
                " Dia lagi abis pulsa kali, atau lagi sibuk."
                " Yaelah, abis pulsa masa sampe 2 hari sih Ren."
                " Dia abis pulsa, trus dia lagi kere, jadi ngga bisa beli pulsa deh."
                " Yoga loh Ren, pernah banget dia kere."
                " Atau seluruh konter di negara ini ngga nerima pengisian pulsa atas nomernya."
                " Seriously ?"
                " Yaudah  lah Bee. Masak dia ngga bales smsmu kamu murungnya sama kayak kalo Ari ngga mau kamu tebengin sih."
                " Hehe, gitu yah. Tapi emang ngeselin. Tiba-tiba gitu aja. "
                " Kalo cuma temenan, kamu ngga perlu khawatir dong harusnya dia gitu. Tapi kalo kasusnya posisi dia itu adalah Ari, baru deh kamu murungnya semingguan."
                " Eh, tapi Ari sekarang mulai ngerespon lho kalo aku sms. "
                " Nyengir kuda deh dia. Haha"
                Iya. Beberapa hari terakhir aku sering nanya hal-hal yang termasuk penting ke Ari, mengingat dia ketua angkatan. Tapi dari hal penting, mulai lanjut ke basa-basi, walaupun pada akhirnya Ari pamit untuk alasan yang tidak aku tau. Tapi sisi hatiku merasa senang, aku merasa semakin dekat dengan Ari.
***
Yoga's pov
                Aku berspekulasi Bee dan Ari semakin dekat. Tempo hari aku tidak sengaja memergoki Ari yang makan siang bareng Bee di kantin kampus. Bee itu temanku. Aku selalu tegaskan itu ke dalam otakku, tapi tetap saja, sifat posesifku tiba-tiba saja terpancing kalau menyangkut Bee.
                " Ga, kamu langsung pulang ?" Bee tiba-tiba mendatangiku saat aku sudah bersiap untuk keluar kelas.
                " Iya kayaknya. Kenapa ? "
                " Nebeng dong, yayaya ? " Aku kaget dengan Bee yang baru kali ini minta diantarkan pulang olehku.
                " Sama Ari aja tuh. " Aku menunjuk Ari yang masih asik becandaan di depan kelas.
                " Ari masih mau mampir ke toko alat musik. " Mendengar Bee yang tau sekali kegiatan sibuk Ari membuatku merasa 'sedang tidak ingin diganggu'.
                " Ngga. Aku mampir juga. " Aku pergi meninggalkan Bee. Aku mungkin menyakiti hatinya dengan penolakanku, tapi aku merasa aneh saat ia tau kenapa Ari ngga bisa mengantarnya pulang. Aku suntuk sepanjang jalan pulang, mendengarkan musik dengan volume tinggi dalam mobilku. Tapi sebagian pikiranku terusik akan Bee yang tidak bisa pulang. Aku mampir di rumah makan, perutku tiba-tiba lapar.
                To : Bee
                Km jd sm siapa plg ?
                Lama aku menunggu balesan smsnya.
                From : Bee
                sm Ari.
                Aku lega dia dapat tebengan, tapi sms itu membuat aku menyimpan hape dalam tas dan menutupnya.
***
Bee's pov
                Aku bete sama Yoga. Nanya baik-baik malah dijawab ketus banget. Bilangnya langsung pulang langsung tiba-tiba berubah bilang mau mampir dulu. Kenapa sih ngga mau nebengin aku ? Takut keliatan temen-temen ? Takut ketauan ? Damn it.
                " Ren." Aku sedang suntuk di cafe bareng Rena.
                " Kenape ? "
                " Sebel banget sama Yoga. "
                " Jadi headline nya udah ganti yah dari Ari jadi Yoga sekarang. "
                " Bukan gitu Ren. "
                " Iya..terus Yoga kenapa lagi ? Dia ngga bisa nemuin konter pulsa yang mau nerima dia buat ngisi pulsa ? Trus dia minta anterin kamu ke planet Mars kali aja disana ada yang jualan pulsa, gitu ? "
                " Rena ah, becanda mulu. Itu lho kemaren kan aku mau nebeng sama dia. Trus dia bilang, sama Ari aja tuh, trus aku bilang deh kalo Ari kan mau mampir dulu, sedangkan dia mau langsung pulang. Trus tiba-tiba dia jutek gitu terus bilang kalo dia mau mampir dulu. Males banget deeh. Akhirnya aku minta tolong banget sama Ari, untung aja dia mau. "
                " Trus ? "
                " Trus dia sok-sok nanya aku gitu lewat sms jadi pulang sama siapa. Apa coba maunya. "
                " Dia jeles kali Bee. "
                " Jeles dari mana. Gue kan cuma temenan aja sama dia, ngapain coba dia jeles. "
                " Ya kalo gitu, kenapa dia langsung nembak nyuruh kamu pulang sama Ari coba. Trus kenapa dia repot-repot ngesms kamu nanya jadi pulang sama siapa. Kamu sih ngejawab Ari ngga bisa nganter kamu kenapa, ya kemungkinan dia jeles, ngeliat kamu deket sama Ari. Dia suka kamu kali. "
                " Yah Ren, ngga mungkin lah dia suka sama aku. "
                " Apasih yang ngga mungkin Bee ? Kamu aja bisa dapet C waktu mata kuliah kemarin, jadi yah, semuanya mungkin kan. "
                " Sialan lu. Haha. "
                Aku ngga pernah tau apa yang Yoga pikirkan, apa yang Yoga rasakan terhadapku. Tapi aku masih bisa bilang, kalau aku suka Ari.
***
Yoga's pov
                Aku memutuskan untuk berhenti. Berhenti memberi waktu lebih untuk Bee. Bukan karena aku membencinya, hanya saja aku tidak suka sikapku yang seperti 'melindunginya' terlalu ketat. Padahal kan aku cuma temannya, cuma sahabatnya. Kalau dia suka Ari, itu kehidupan dia, dan aku bukan salah satu orang yang akan mengusiknya.
                Ternyata satu kelas dengan Bee membuat niatku semakin susah untuk dijalankan. Sosok Bee yang fragile sekaligus sekeras karang membuatku tidak bisa berhenti mencuri pandang kepadanya. Hanya untuk memastikan dia baik-baik saja. Aku tau akhir-akhir ini dia sangat dekat dengan Ari. Aku ingin, sangat ingin tidak memerhatikan itu, tapi mataku selalu memanas setiap melihat mereka sangat dekat.
***
Bee's pov
                Yoga berhenti memberiku kabar. Dia juga mulai ketus di kelas, tidak menyapaku, tidak menanyakan kabarku. Aku seperti dipersilahkan keluar begitu saja dari hidupnya. Kemarin aku lihat dia makan siang bersama salah satu teman sekelas, akhir-akhir ini mereka sangat dekat. Aku tau kok aku hanya sekedar temannya, tapi hilangnya Yoga seperti satu kolom kosong dalam lembar kerjaku.
                Hari ini aku nonton festival Jazz bareng sama Ari. Dia memberikan tiket gratis saat kemarin aku nebeng dia untuk pulang. Aku senang. Senang sekali bahkan, aku belum menceritakan ke Rena. Akhir-akhir ini Rena sedang menyibukkan diri dengan hobinya, fotografi, semenjak pancarnya memutuskan hubungan mereka. Aku merahasiakan sedikit ceritaku untuk lebih banyak menegakkan pundak Rena yang sedang jatuh.
                Aku datang dengan kendaraan sendiri ke festival. Acaranya rame. Aku janjian di pintu masuk sama Ari, tadi aku juga sudah ngabarin dia lewat sms. Ari datang, dengan seorang cewe, aku ngga kenal.
                " Udah lama Bee ?"
                " Ngga juga, hehe. "
                " Eh kenalin, ini Tia, hehe."
                " Oh iya, Bee. Temen sekelasnya Ari. Pacar baru yaa."
                " Ehehe, lu mah Bee, ngga paham deh. "
                Aku nyengir sebisanya. Hatiku miris. Pantas saja selama ini aku tidak masuk dalam dunianya. Iyalah, dibanding cewenya, aku jauh dari selevel. Malam itu aku kurang menikmati lagu-lagu Tompi padahal aku punya beralbum-album miliknya di rumah.
                Aku pulang, suntuk. Menangis di mobil dengan backsound lagu milik Maroon 5. Spontan, aku menelpon Yoga.
***
Yoga's pov
                Bee tiba-tiba menelponku. Suaranya serak. Dia sendirian, nyasar. Bee selalu buruk dalam hal navigasi. Aku tau dia di daerah mana. Sikap itu muncul lagi, sikap selalu ingin melindungi. Dan di sana, mobil Bee terparkir di pinggir jalan. Aku masuk ke mobilnya.
                " Kenapa Bee ?"
                " Makasih ya udah dateng, bego banget gue salah ambil jalur. Hehe."
                " Kamu kenapa ?"
                Bee cuma diam. Aku tau dia habis nangis. Kacamata yang ia sengaja kenakan tidak bisa menutupinya dengan baik.
                " Yaudah, kalo kamu ngga mau cerita aku ngga maksa sih. " Belum sempat aku keluar dari mobilnya, ia membuka suara.
                " Aku lagi patah hati aja Ga. Bego banget selama ini mencoba suka sama orang yang salah. Bego karna ngga mau benar-benar berhenti padahal aku tau banget dia bukan buat aku. Dan sekarang susah banget lepasnya. Totally blind Ga. "
                Aku terdiam, baru kali ini aku melihat Bee begitu emosionalnya. Aku bingung harus menanggapi apa, jadi aku memutuskan untuk diam saja dan mendengarkan ceritanya. Saat ia sudah selesai bercerita, yang bisa kulakukan hanya menepuk bahunya dan mengelus rambutnya layaknya seorang kakak.
                Setelah keadaan agak tenang, aku mengantarnya pulang ke rumah. Mukanya suntuk, matanya masih sembap, tapi aku cukup tenang karena aku yakin dia akan baik-baik saja di rumah.
***
Bee's pov
                Entah kenapa pertolongan Yoga kemarin membuatku terkesima. Aku senang, diperhatikan oleh Yoga. Walaupun aku tau itu hanya sebatas teman, tapi aku merasa nyaman.
                " Ren, aku udah mutusin. "
                " Mutusin apaan ?" Rena masih sibuk menyendok es krim coklatnya.
                " Aku mau berhenti suka sama Ari. "
                " Lha kenapa ?" Sekarang aku menarik perhatian Rena.
                " Yaa..ngga papa. Emang udah ngga mungkin aja. "
                " Yakin ? Inget lho ini bukan pertama kalinya kamu bilang begini. "
                " Iya, gue tau kali. Tapi ini beneran. "
                " Massaaaa ?? Kepincut sama orang lain yaa ? "
                " Aku mau ngejar yang tersedia aja Ren. "
                " Contohnya seperti Yoga, gitu ?"
                " Kok lu langsung nebaknya dia sih ?"
                " Yaa..abisnya kamu kan lagi deket sama dia. Ya, deket-deket ngga-ngga juga sih, hehe. Tapi kamu ngga takut kalo suka kamu ke Yoga itu sebagai pengganti sosoknya Ari. "
                " Gue ngga tau sih, tapi ngga ada salahnya nyoba kan. "
                " Serah lu daah."
                Aku mau berhenti dari Ari. Aku memang menyimpan alasan kenapa aku berhenti untuk suka sama Ari dari Rena, tapi, dengan Rena tau sendiri, mungkin itu jalan yang lebih baik. Aku mulai memerhatikan Yoga. Mengajaknya makan siang, kami sering tidak sengaja hang out bareng sama temen-temen yang lain juga. Aku akan suka Yoga.
***
Yoga's pov
                Aku semakin dekat dengan Bee semenjak malam itu. Fragile-nya dia semakin terlihat saat tatapannya kosong melihat Ari. Aku tau sebab ia menangis beberapa minggu lalu itu karena Ari, meskipun ia tidak menyinggungnya.
                Aku tidak pernah mencoba membuat Bee untuk suka padaku. Aku juga tidak pernah berniat berteman dengan Bee karena aku tertarik padanya. Tapi entahlah, ada banyak yang masih bisa kupertimbangkan. Skripsi yang semakin menggila, tugas yang menumpuk. Aku menjaga jarak dari Bee. Aku hanya tidak mau dia menganggap aku memeberinya harapan, padahal aku tidak.
***
Bee's pov
                Tugas yang begitu memenuhi sticky notes di kamarku membuatku melupakan cerita tentang aku-Yoga-Ari. Yoga juga mulai menjaga jarak terhadapku. Aku tidak tau apakah itu karena dia sibuk mengerjakan tugas yang menumpuk atau karena ada hal lain. Aku tidak banyak berharap pada Yoga, aku hanya ingin berusaha menyingkirkan Ari. Bukan berarti Yoga adalah pengganti, tapi mungkin aku harusnya lebih terbuka sejak awal, kalau Yoga-lah yang tersedia untukku, bukan Ari.
                Origami-origami yang isinya curahan semua cerita tentang Ari sudah kugantung manis di sudut kamarku. Kujadikan pajangan disana. Jumlahnya yang banyak membuatku sadar betapa aku terlalu menginginkan Ari selama ini, tanpa ada kesempatan untuk membuka pintu bagi yang lain.
                ******
Bee's pov
                Besok wisuda. Malam ini aku menulis beberapa ocehan tentang cerita semasa kuliah di blog-ku. Rena akan melanjutkan kuliah S2nya di salah satu universitas di pulau Jawa, ia terlalu mencintai Indonesia sehingga berpikir 100kali untuk pindah ke luar negri. Sedang aku, aku melanjutkan S2ku di salah satu universitas di London, aku dengan beruntungnya dapat beasiswa. Yoga memutuskan untuk magang di salah satu perusahaan swasta. Multi bahasanya membantunya mendapatkan pekerjaan itu. Dia memutuskan untuk melanjutkan S2 saat ia bisa membiayai dirinya sendiri.
                Aku membuat 2 origami spesial malam ini. Khusus untuk wisudaku besok.
****
Yoga's pov
                Pada akhirnya sebuah awal itu memiliki akhir. Aku wisuda hari ini. Mulai minggu depan aku sudah mulai bekerja. Aku masih sering bertanya kabar Bee. Aku tau dia akan ke luar negri. Bee cepat bangkit, dia wanita yang dewasa, aku tau itu. Dan itu yang membuat Bee menarik.
                Bee memberiku origami berbentuk burung saat aku mau pulang. Dia hanya bilang itu sebagai jimat keberuntungan untukku. Aku menggantungnya di spion tengah di mobil. Aku selalu suka origami buatan Bee. Aku bahkan masih menyimpan origami kapal yang dia buatkan untukku dulu.
                Aku tidak pernah tau kalau origami itu berisi kata-kata. Sampai beberapa bulan kemudian aku melihat guratan pulpen itu saat kaca depan mobil disinari matahari yang terang. Aku mengambil origami itu, membukanya pelan-pelan, dan ya, disana cerita Bee termuat.

Jumat, 17 Mei 2013

coffee and guitar

Untuk Uuty : you never know exactly the truth, but believe me, something better to be unknown until the right time. Then i'm kinda make my crazy imagination for you :), hope you like this



" Heh neng, pagi-pagi udah kopi aja. Telur tuh jangan dianggurin. " Jean menggerutu pada Renata yang sedang menyeruput cappuccino nya pagi ini.
" What do you expect from someone who didn't sleep for three days ?" Renata mencari alasan untuk cappuccinonya
" Some sleep, i guess. Masak kamu mau jadi kelelawar gini terus sih Ren, kelelawar aja tidur paginya, lah elu, jangankan tidur, ngedip aja jarang. Hahaha "
" Sial. Yuk ngampus." Renata meresap cappuccinonya hingga habis lalu menuju garasi tempat mobil Jean terparkir rapih. Batinnya mengumpat ayahnya yang belum mengijinkannya untuk mengendarai mobil sendiri.
***
" Ren, catetan biodata udah selesai belum ?" Billy, ketua angkatan mereka sudah menagih tugas Renata yang tempo hari ia berikan.
" Nih" Renata menyodorkan beberapa lembar kertas begitu saja. Tentu saja dia menyelesaikannya, untuk apa dia tidak tidur beberapa hari hanya untuk bengong melihat bulan. Terlihat seperti vampire yang galau.
" Thank you Renata" Billy melenggang pergi, Renata tidak terlalu memedulikannya. Kepalanya sangat pusing, kopi mulai melakukan tugasnya, membuatnya deg-degan tidak jelas. Tapi, ia sudah biasa dengan kopi.
Deni melenggang duduk di samping Renata tanpa permisi. Membuat Renata sedikit kebingungan.
" Tumben duduk disini." Renata mulai mengkritik tindakannya.
" Kamu yang tumben. Biasanya kamu duduk di sisi sana. Aku sih biasa duduk di sini." Deni menunjuk barisan Jean duduk.
" Hm..aku sudah 2 hari duduk di sini. Mungkin karena kamu ngga masuk jadi ngga tau ya. Okey aku pindah aja." Renata menenteng tasnya dan duduk sembarangan di sebelah Jean.
" Kok pindah ?" Jean mengerutkan keningnya.
" Kamu mau komen aku juga. Kamu mau suruh aku pindah, lagi?"
" Kok marah sih Ren,santai ajalah." Jean melihat tempat awal Renata duduk, lalu mengangguk-angguk.
" Well, you see now why i need to move."
" Sort of." Jean diam saja. Deni memang terlihat menawan, tapi sikap acuh dan cueknya membuat beberapa rang memutuskan untuk tidak berurusan dengannya.
***
" Nih." Jean melempar obat tidur ke atas meja Renata.
" Buat apa ? "
" Apa yang kamu harapkan dari seorang teman yang sudah liat temannya ngga tidur 3 hari ? "
" Hm..buy me more coffee maybe." Renata mengambil obat tidur yang diberikan Jean dan menyimpannya di tasnya.
" Pulang ? "
" Yeah. " Mereka pulang dan Renata berharap obat tidur yang ada di tasnya berhasil membuatnya lelap malam ini.
***
Renata tidur seharian, yang ia ingat terakhir kali adalah ia makan masakan Jean yang agak sedikit gosong tadi siang. Setelah itu ia tidak ingat apa-apa lagi dan saat membuka mata, kamarnya sudah gelap gulita, di luar juga sepertinya sudah gelap.
" Tahun berapa sekarang Jean ? " Renata menggaruk kepalanya yang tidak gatal menuju ruang tengah tempat Jean sedang menikmati serial tv favoritnya.
" Masih di tahun yang sama saat kamu minum obat tidurku tadi siang. Kamu pikir kamu hibernasi ? "
  " Arrggghhh...syukurlah. Kukira aku sudah tidur beberapa abad. Obat tidurmu berhasil ternyata Jean. Err..sudah jam 8. " Renata miris melihat jam dinding.
" Hey, kita makan diluar, ada tiket gratis. " Jean menunjukkan 2 tiket gratis di tangannya.
" Whatever. Yang penting lambungku terisi. Aku mandi dulu sebentar. " Renata meninggalkan Jean yang masih asyik dengan serial tv nya.
***
" Kita ngga pernah kesini kan ? Kok tumben ? Kamu baru dikirimin uang Jean ? "
" Nope. Kan aku tadi sudah bilang dapat tiket gratis. " Renata memutar bola matanya tanda ia lupa. Mereka berdua masuk sebuah cafe yang terlihat cukup eksklusif. Jean lalu memberikan tiket yang ia bawa ke pelayan. Dari jauh seseorang menghampiri mereka dengan senyumnya, Deni.
" Hey Jean. Dipake juga nih tiket gratisnya. "
" Iyalah. Udah dikasih masa' ngga dipake sih. Kapan nampil nih ? "
" Entar lagi. Aku kirain kamu bakal ngajak pacar. Ngga taunya Renata. " Deni melirik ke arah Renata yang sedari tadi memperhatikan pintu masuk.
" Kenapa ? Masalah buat kamu ? "
" Ngga usah sewot Ren. Thanks udah datang. Enjoy your night ya. Aku mau siap - siap di belakang panggung dulu. " Deni meninggalkan Jean dan Renata.
" Kamu ngga bilang dia yang ngasih tiket gratisnya. " Renata kini sewot pada Jean.
" Kamu kan ngga nanya Ren. Katamu yang penting lambungmu keisi kan. " Jean cekikikan sendiri melihat Renata yang sewot sendiri.
Deni naik ke panggung. Memulai memainkan gitar. Ia membawakan satu musik yang beraliran jazz. Merdu dan indah, hingga cukup membuat Renata terkesima. Ia seperti mendengarkan lagu-lagu favoritnya secara live. Deni membawakan lagunya sangat baik dan menghipnotis Renata dengan permainannya.
***
" Ren, gimana aku tadi malem ? " Deni langsung menyodorkan pertanyaan saat Renata baru duduk di kursi kuliahnya.
" Hm...well, kamu seperti...manusia. " Renata bohong. Padahal semalaman ia tidak bisa tidur karena suara gitar dari Deni.
" Bukan itu Ren. Maksudku main di panggungnya, bagus ngga ? "
" Hm...gitulah. " Renata mulai gugup dengan sikap ngotot Deni.
" Ah, ngga asik gitu Ren. " Deni bangkit dan meninggalkan Renata. Renata menghembuskan napasnya dengan lega. Bodoh sebenarnya karena menyia-nyiakan kesempatannya untuk bisa ngobrol dengan Deni. 'Hm..wait. Kenapa aku butuh ngobrol dengan Deni ? '
" Renata...Renata...Kalo bagus, bilang aja napa sih ? " Jean menyadarkan Renata dari lamunannya.
" Darimana juga kamu dapet teori kalo aku suka permainannya tadi malem ? "
" Ngga kedip sama sekali itu cukup menjelaskannya Ren. "
" Sejelas itukah ? "
" Banget. Kamu ngga suka banget ya sama Deni ? "
" Hm...i don't know. Aku hanya ngga mau dia tau kalo dia berbakat dalam bermain gitar. " Renata sudah mulai membuka novel yang sedari tadi ia pegang. Jean menyerah untuk ingin tau dan memilih untuk menerima jawaban diplomatis Renata.
***
Beberapa minggu terakhir Deni sering berada di dekat Renata. Entah itu memberinya tiket gratis atau tiba-tiba duduk di sebelah bangkunya untuk sekedar bermain tablet miliknya. Renata tidak pernah mengusir Deni untuk pindah, ia lebih memilih tidak peduli atau pindah. Deni yang badannya sangat terawat itu benar-benar sudah mengganggu penghantaran saraf di otaknya.
" Jean " Renata datang tiba-tiba ke ruang tengah tempat Jean berada dan spontan membuatnya kaget.
" Apasih Ren ? Bikin kaget deh. "
" Aku kayaknya sudah sedikit gila. " Kini Renata sudah duduk di sebelah Jean.
" He ? " Jean mengangkat satu alisnya.
" Beberapa hari terakhir aku terganggu dengan kehadiran Deni. "
" Bukannya udah dari dulu ya ? "
" Bukan 'terganggu' yang seperti itu. "
" Terus ? "
" Hm...i don't know. Err...sepertinya aku mulai suka deh sama dia. "
" WHAT ?" Jean berteriak cukup keras, membuat Renata meringis.
" I'm not really sure. Tapi, aku bahkan suka bau parfumnya. Aku suka saat dia bermain gitar dengan asal-asalan di tempat duduknya. Aku benci harus mengakuinya. Entahlah Jean. "
" Hm...bukannya kamu sedang suka dengan Kak Romi ya ? "
" Iya. Tapi kan aku sudah pernah cerita kalau Kak Romi tidak tertarik sama sekali dengan pacaran, lagian dia juga sebentar lagi wisuda Jean. "
" Yaudah, kalau gitu silahkan ajalah deketin Deni. Hihi "
" Tapi Jean, dia juga dekat sama Emil. " Renata mulai ragu karena Emil adalah teman karibnya sejak ia baru bisa membaca dan menulis. Terlebih lagi, Emil yang rupanya seperti bunga mawar di tengah padang rumput, cantik dan menawan.
" Ya..itu terserah kamu sih mau gimana. Jalani yang menurutmu itu baik buat kamu Ren. Kalau kamu sedikit tersesat seperti dulu, aku masih disini kok. Apapun keputusanmu, aku disisimu Ren. " Jean memandang sahabatnya itu dengan senyuman tulus.
Renata memeluk sahabat satu kontrakannya ini. Teringat dulu Jean lari tergesa-gesa ke rumah Renata saat mendengar ia putus dari pacarnya, Davi. Namun kini Renata bingung, ia tidak bisa memutuskan sisi yang mana yang harus ia pilih. Ia tidak yakin Deni melihatnya lebih dari teman, kalaupun ia mau berusaha untuk mendekati Deni, ia tidak bisa menyakiti Emil begitu saja. Dan akhirnya Renata akan memutuskan esok saat ia menyelesaikan kopi paginya.
***
" Renata. " Deni menyorkan 2 lembar kertas pada Renata.
" Apa ini ? "
" Tiket gratis. Lumayan kan buat kalian. "
" Kenapa ngasih ke aku ? "
" Hm..well, entahlah. Aku pingin aja. Kamu bisa datang bareng Emil atau Jean. " Senyum Deni mengembang sempurna di wajahnya.
" Kok kamu ngga mention pacar dipilihannya. "
" Aku yakin kamu ngga punya pacar sih. "
" Sok tau. "
Deni tidak peduli jawaban terakhir Renata, ia sudah duduk rapih di samping Renata dan bermain dengan tabletnya. Renata gugup, ia senang, tapi juga biasa saja. Kadang, ia berpikir kalau Deni itu punya dunia sendiri dimana orang lain tidak bisa masuk ke dalamnya. Tapi kadang, Deni menjadi sosok sosial yang menyenangkan. Dan Deni, punya badan yang bagus, proporsional, pas dengan baju apapun yang dia kenakan, entah itu kaos atau kemeja, entah itu celana basket atau jeans.
***
Emil yang menemani Renata malam ini. Jean sedang asyik dengan pacar barunya, ia tidak bisa menemai Renata.
" Serius Deni ngasih tiket gratis ke kamu ? Kok bisa ? "
" Ngga tau deh Mil. Yaaahh...yang penting makan gratis lah. Haha. " Renata menyembunyikan tujuannya selain makan, memperhatikan Deni tampil di atas panggung.
" Hm...Mil, aku mau pengakuan nih. " Renata memulai dengan ragu-ragu, takut akan tanggapan Emil nantinya.
" Apa ? "
" Hm...menurut kamu, terlihat bodoh ngga kalau aku suka sama Deni ? " Renata sedikit berbisik mengucap nama Deni.
" Ahahahaha. Ngga lah Ren. Itu hak kamu mau suka siapa aja dan ngga ada rasa suka yang terlihat bodoh. Kecuali kamu suka sama abang bakso yang sering lewat depan kontrakanmu sih, itu terlihat, emm aneh. "
" Tapi kan terlihat tidak sepandan. "
" Apanya yang ngga sepadan ? Kalian kan satu kelas, itu artinya kalian sama. Semua manusia sama Ren dimata Tuhan. Jadi santai ajalah. "
" Tapi, aku ngga yakin dia tertarik sama aku. "
" Tau darimana coba ? Kamu emang pernah nanya ke dia ? "
" Ngga mungkin lah. "
" Nah...kalau gitu ngga ada yang tau kan. "
Renata menimbang-nimbang perkataan Emil, ada benarnya. Dia terlalu takut dengan perasaannya ke Deni, padahal dia tidak pernah tau kemungkinan yang ada dari Deni untuk dia. Malam itu, Renata terhipnotis dengan permainan Deni, lagi.
***
Hari ini rencananya Emil, Deni, dan Renata makan malam bareng di rumah makan milik keluarga Emil. Dulu Renata sering makan di sini bersama keluarga Emil namun semenjak ia berbeda kampus dengan Emil, sudah semakin jarang ia makan diluar barng Emil lagi.
" Udah lama ? " Suara Deni mengagetkan Renata yang sedag asik membaca novel.
" Hm..ngga juga. " Renata membalas ala kadarnya dan matanya tidak berpindah sedikitpun dari novelnya.
Deni memilih duduk di sebelah Renata dan langsung asik dengan tablet miliknya. Mereka berdua tampak seperti dua orang yang asing yang kebetulan harus duduk pada meja yang sama karena rumah makan yang ramai, padahal saat itu hanya ada beberapa pengunjung yang datang. Beberapa menit kemudian Emil datang, dengan seseorang.
" Hai, udah pada lama ya ? " Emil menyapa keduanya yang tengah asik dengan kesibukan masing-masing.
" Ngga juga." Renata dan Deni menjawab hampir pada waktu bersamaan.
" Kalian serasi banget sih sampe jawab barengan gitu. Eh iya, aku bawa temen ngga papa ya ? "
Renata dan Deni melihat seseorang yang bersama Emil. Tubuhnya yang tinggi tidak kalah bagus dari tubuh Deni, wajahnya sedikit blasteran, dan mukanya menyiratkan bahwa ia adalah seseorang yang baik hati. Dia tersenyum saat Emil memperkenalkan dirinya, namanya Mark. Setelah mereka resmi saling kenal, situasi selajutnya adalah mereka menunggu dengan tidak sabar makanan datang sambil bersenda gurau bersama. Namun selama situasi itu terjadi, Renata sering sekali mecuri pandag pada wajah Deni. Ia memperhatikan apakah Deni cemburu dengan Emil yang datang dengan seorang pria atau tidak. Tapi tidak ada kesimpulan yang bisa didapatkan oleh Renata, Deni terlalu pintar menyimpan ekspresi aslinya dibalik tawanya yang terdengar cukup kencang malam itu.
Masing-masing dari mereka puas dengan makanan yang mereka santap malam ini. Porsi yang disediakan juga cukup membuat mereka kenyang walaupun tidak sampai merasa penuh.
" Ren, kamu tadi kesini naik apa ? Pinjem mobil Jean ? " Emil bertanya sambil masih mengaduk jus alpukatnya yang tinggal setengah.
" Oh, ngga, tadi aku nebeng sama Jean. Kebetulan tadi dia mau ke supermarket. "
" Terus pulangnya gimana ? Dijemput Jean juga ? "
" Ngga nih, belum tau, naik taksi mungkin, hehe." Renata cengengesan dengan jawabannya, padahal dalam hati ia sama sekali tidak tau cara ia pulang ke rumah bagaimana.
" Hm..ikut aku aja yuk. Aku anter, Mark juga pasti ngga keberatan. Iya kan Mark ? " Emil menoleh pada Mark yang sedari tadi ikut memeperhatikan perbincangan mereka, atau mungkin memperhatikan Emil.
" Iya, boleh aja. " Mark menjawabnya dengan lugas ditambah sesungging senyum tampan miliknya.
" Ngga usah deh. Aku kan ngga bakat jadi obat nyamuk, hahahaha. "
" Sialan. Siapa bilang kamu obat nyamuk. Udah bareng aku aja. "
" Ngga usah deh. Kalo kamu ngantar aku kan harus muter dulu, sedangkan rumah kamu kan cukup jauh Mil. "
" Hm...yauda, Den, anterin Rena ya. " Emil langsung menyodorkan pernyataan gamblang itu pada Deni. Yang disinggung tersedak spontan.
" Ha ? Kok jadi gue ? "
" Ya...kan ngga papa Den. Lagian rumah kamu ngga terlalu jauh dari rumah Rena kan ? "
Deni hanya mengangguk saja, tidak ada gunanya berdebat dengan Emil, karena pada akhirnya Deni akan mengiyakan semua permintaan Emil.
  "Aku titip Rena ya. Awas lho kalo dia ngga selamat sampe rumah. " Emil sudah mengacung-acungkan pisau steaknya yang disodorkan pisau hanya tersenyum jahil, dan itu kontan membuat bibir Emil mengerucut. Deni hanya tertawa melihat muka Emil yang berubah lucu seketika itu.
Renata tidak pernah berencana bahwa ia suatu hari akan naik mobil Deni. Dulu ia pernah bercita-cita naik mobil Kak Romi dan itu tidak pernah terwujud hingga ia patah hati karena toh ternyata Kak Romi tidak pernah melihatnya. Dalam perjalanan mereka sedikit sekali ngobrol, hanya hal-hal kecil yang mereka bicarakan seperti musik kesukaan mereka - yang kebetulan mereka memiliki selera yang sama- ataupun tentang perkuliahan mereka yang semakin padat jadwalnya mengingat mereka sebentar lagi ujian akhir semester.
Renata sudah sampai di rumah, Jean sudah tidur karena saat ia datang, rumah sudah dalam keadaan gelap. Deni mengantarkannya sampai ke depan rumah walaupun pada awalnya Renata menolak. Malam itu Renata kembali tidak bisa tidur ia masih menebak-nebak apakah Deni cemburu saat Emil datang bersama Mark tadi atau tidak. Dan nyalinya yang tidak cukup banyak juga membuatnya tidak berani untuk menanyakannya langsung pada Deni.
***
Renata mulai sibuk mempersiapkan diri untuk ujian akhir semesternya. Jean juga melakukan hal yang sama. Kini tidak hanya Renata yang terbangun sampai subuh, tapi Jean juga. Terkadang Deni datang ke kontrakan mereka untuk belajar bersama. Renata semakin dekat dengan Deni, tapi tetap saja ia tidak banyak tau tentang Deni. Mereka memang sering bercanda bersama atau ngobrol bareng di kelas. Tapi di luar itu, mereka tidak pernah berkomunikasi sedikitpun entah itu chatting atau sms. Renata bahkan tidak tau nomer handphone Deni.
" Jean ? " Renata mulai angkat bicara saat sepi tengah menyergap mereka yang sibuk dengan bahan bacaan masing-masing.
" Hm.." Yang disebut namanya hanya menjawab ala kadarnya tanpa mengalihkan pandangannya dari buku kuliahnya.
" Ngga jadi deh, nanti aja. " Melihat Jean yang sibuk Renata mengurungkan niatnya untu bertanya. Renata kembali ke bukunya, namun pikiran itu tetap mengganggu konsentrasinya. Jean yang cukup tau arti dari setiap ekspresi wajah Renata lalu menutup bukunya dan berbalik memandang Renata.
" Kenapa Ren ? " Tanya Jean halus pada Renata seraya menyeruput kopinya yang mulai dingin.
" Aku mau berhenti suka sama Deni kayaknya. "
" Eh ? Seperti saat kamu bilang mau berhenti memperhatikan Kak Romi tapi kamu bahkan tau kapan dia maju sidang untuk skripsinya ? "
" Literally Jean. Dunianya susah untuk dimasuki. Bahkan aku ngga pernah tau apa dia punya perasaan untuk Emil atau salah satu teman kita di kelas. " Muka Renta mulai menyiratkan muka desperate nya.
" Ren, menurut aku rasa suka itu ngga bisa disuruh stop gitu aja. Ada sistem di otak kita yang tidak mengindahkannya. Bahkan orang pacaran yang putus aja bisa balikan lagi. Itu artinya kamu ngga bisa bikin lampu merah tiba-tiba untuk perasaanmu. Tapi, well Ren, sometimes life is crap. Tergantung kamu mau nanggepinnya gimana. Kamu yang punya keputusan untuk hidupmu sendiri Ren, aku disini cuma sebagai orang ketiga dalam hidupmu."
Jean kembali ke bukunya. Renata juga kembali ke bukunya, namun pandangannya kosong. Ia membenarkan beberapa perkataan Jean karena dia pasti tidak akan bisa menolak tiket gratis yang dikasih Deni, walaupun tiket itu akan mengantarkannya pada kekaguman yang bertambah kepada Deni.
***
Tahun terakhir diajalani dengan banyak pikiran stres. Mulai dari mencari tempt magang sampai mengerjakan skripsi yang selalu bisa menyita waktu. Deni tetap seperti dulu pada Renata. Suka duduk tiba-tiba di sebelah Renata, sering memberikan tiket gratis pada Renata walaupun kebanyakan Renata tolak dengan alasan ia sibuk mengerjakan skripsinya. Terlebih Renata sudah mulai magang di suatu perusahaan sebagai Human Resources Department mereka. Jean masih tetap dengan pacaranya dan ia juga masih setia menemani Renata, walaupun Renata kini sudah dibelikan mobil oleh ayahnya namun bagi Jean, lebih baik menggunakan satu mobil saja kalau memang urusannya bersamaan.
Wisuda merupakan salah satu kejadian bersejarah dalam hidup. Karena dari situlah dimulai kehidupan yang baru, kehidupan yang benar-benar memaksa diri kita untuk jalan dengan kaki sendiri. Wisuda kampus dilaksanakan siang ini, di aula kampus yang memang mewah dan besar. Renata lulus dengan cumlaude, Jean dan Deni tidak kalah juga. Renata sudah mendapat tawaran pekerjaan yang langsung ia sanggupi dengan menjadi staff di sebuah perusahaan di Bandung. Sedangkan Jean memutuskan untuk melanjtkan S2 langsung di sebuah universitas di luar negri, terlebih karena ia mendapatkan beasiswa untuk kesana. Dan Deni, Renata hanya pernah dengan bahwa Deni mendapat pekerjaan di Yogyakarta. Renata tidak pernah tau kebenarannya, ia tidak mau mempersilahkan dirinya untuk bertanya. Dan apa yang Jean katakan tahun lalu itu benar bahwa ia tidak bisa tiba-tiba memberhentikan perasaannya pada Deni, bahkan sampai sekarang. Tapi ia memilih untuk mundur beberapa langkah untuk membiasakan diri tanpa Deni.
***
Hari ini genap satu tahun Renata bekerja di Bandung. Tempo hari dia skype dengan Jean yang bercerita panjang lebar soal ia dilamar oleh pacarnya. Iya, Jean akan menikah dnegan pacarnya dulu saa ia dan Renata masih sebagai mahasiswi. Tadi pagi ia dapat kejutan dengan kedatangan Emil yang tiba-tiba mengingat Emil juga seperti Jean yang melanjutkan S2 di luar negri. Dan disinilah mereka, di sebuah rumah makan khas masakan Bandung untuk makan siang bersama.
" Gimana Ren kerja disini ? " Emil bertanya dengan tetap konsentrasi pada nasi liwetnya.
" Hm..nyaman Mil, aku bahkan udah ditawarin mau lanjut S2 di universitas terdekat atau ngga. "
" Terus kamu terima ngga ? "
" Iyalah Mil, aku ngga mau ketinggalan sama kamu dan Jean, awal tahun ajaran nanti aku udah masuk. Kamu gimana disana ? Pasti Paris keren banget deh. "
" Keren sih. Banyak objek bagus tiap hari yang bisa dijadiin inspirasi tugas. Hehe " Emil memang harus punya banyak inspirasi baru mengingat ia menggeluti dunia interior design.
" Haha..Tapi aku yakin banget kangenmu sama nasi pasti gede banget. Itu nasi liwet sampe tercerai berai gitu, haha. "
" Iyalah Ren, aku jarang makan nasi sih di sana. ohiya, Deni gimana ? " Emil tiba-tiba menanyakan pertanyaan yang bahkan Renata tidak tau mau jawab apa.
" Gimana apanya ? "
" Ya..kabar dia sekarang. Kalian kan bareng-bareng di Indonesia, masa ngga saling ngasih kabar sih ? "
" Ngga Mil, yang aku tau terakhir sih, dia dapet kerjaan di Jogja, ngga tau dia terima atau ngga. " Renata sudah semakin gugup dengan topik pembicaraan yang diangkat Emil.
" Hm..gitu. Kamu masih suka kan sama dia ? " Renata kontan tersedak dengan pertanyaan gamblang Emil.
" Kan aku dulu udah pernah cerita Mil kal aku mau nyerah aja. "
" Yaaahh...kali aja kamu berubah pikiran. "
" Hhh...ngga Mil. Emang lebih baik aku berada di luar dunianya, karena toh aku tidak pernah benar-benar masuk ke dunianya. "
" Ada nanti saatnya kamu dapat yang terbaik Ren. Percaya deh. " Emil menjawab dengan nada diplomatis.
" Yah, mungkin. "
" Eh iya, entar malem makan bareng lagi ya. Ada satu rumah makan yang mau aku datengin, kata mama sih tante Eri buka rumah makan di Bandung. " Keluarga Emil memang banyak yang pengusaha, dari pengusaha kain sampai pengusaha berlian.
" oh iya gitu ? Waaahh...aku harus coba juga nih. Yuk boleh, pake mobilku aja, yang tau bandung kan aku, haha. "
" Huu..sementang udah punya mobil sekarang. "
Mereka berdua menyelesaikan makanan mereka dan Renata harus kembali ke tempat kerjanya.
***
" Tanteeeee .... " Emil langsung menghampiri tante Eri saat ia dan Renata tiba di rumah makan miliknya.
" Hei.." Tante Eri adalah orang yang ramah, Renata sempat dulu beberapa kali bertemu dengannya saat kebetulan Tante Eri berkunjung ke rumah Emil
" Apa kabar tante ? "
" Baik.. Kamu apa kabar ? "
" Baik doongg..."
" Eh, ada Rena. Apa kabar ? " Tante Eri menyapa Rena yang sedari tadi diam memperhatikan keakraban Emil dan Tantenya.
" Baik tante. "
" Tan, Rena kerja di Bandung juga lho.."
" oh iya ? Sering-sering main ke sini ya Rena. "
" Hm..iya tante "
" Yaudah, kalian duduk dulu gih, tante masih ada yang diurus dulu. "
Setelah itu Renata dan Emil sudah memilih tempat duduk strategis di dekat panggung. Di rumah makan ini biasanya ada beberapa tamu yang mau menyumbangkan suaranya di depan pengunjung, entah itu suara yang bagus atau suara yang pas-pasan.
Renata menatap panggung yang kosong itu dengan tatapan menerawang. Ia teringat saat dulu ia mendapat tiket gratis dari Deni. 'Hah..Deni lagi'. Renata mendesah perlahan, di sudut hatinya ada satu titik yang mengatakan bahwa ia ingin sekali lagi melihat Deni bermain dengan gitarnya, mungkin bisa dikatakan ia, kangen.
" Hm...Ren, kalau Deni nembak kamu, kira-kira kamu terima ngga ? " Pertanyaan tiba-tiba itu sontak membuat Renata tersedak.
" Ha ? Kamu kenapa sih Mil, daritadi siang nyinggung Deni mulu. "
" Ya...kan ngga papa, aku pingin tau aja, terima ngga ?"
" Kalau dulu, mungkin aku terima Mil. "
" Kalau sekarang ? "
" Entahlah, kan aku sudah bilang mau berhenti menyukainya. "
" Berarti masih ada kemungkinan kan ? "
" Udah deh Mil...Kamu punya rencana apa sih ? "
Emil hanya tersenyum jahil atas pertanyaan Renata. 'You'll see..' Hanya itu kata-kata yang terlintas dalam hati Emil.
Hari semakin larut, makanan Renata dan Emil sudah berpindah dari piring ke perut liar mereka berdua. Mereka masih menikmati minuman mereka masing-masing saat seseorang membawa gitarnya naik ke atas panggung.
" Selamat malam semuanya. "
Renata kenal suara itu, suara yang dulu pernah ia kagumi. Ia menghentikan mengaduk jusnya dan melihat ke panggung, dan ya, lelaki itu di sana, masih dengan badan bagusnya, sudah duduk manis pada bangku tinggi sambil memegang gitar, dia Deni.
" Deni " Renata menyebut nama pria itu pelan, ia mengalihkan pandangannya pada Emil memberikan wajah tanda tanya, Emil hanya mampu tersenyum mengingat rencananya akan berjalan mulus.
" Terima kasih buat Tante Eri yang mempersilahkan saya untuk menggunakan panggung ini, dan terima kasih juga buat untuk Emil yang sudah memberiku rencana brilian. Satu lagu ini khusus aku bawakan untuk seseorang yang telah lama kusuka yang tidak pernah tau bahwa bukan ia yang meyukaiku terlebih dahulu, tapi aku yang tertarik padanya sejak awal. "
Dan permainan gitar Deni mengembalikan lagi perasaan Renata yang sudah lama ia kubur dengan rapih. Suara Deni yang walaupun agak pas-pasan tetap membuat Renata terpaku pada tempatnya. Lagu itu, Pilihanku miliknya Maliq n d'essential, mampu menghipnotis Renata. Dan di akhir lagu, semua rasa itu memenuhi hatinya, ia merasa gagal untuk memberi lampu merah untuk perasaannya.
" Well, Renata Alfisiera, will you marry me ? " Deni memandang Renata dengan tatapan intens. Dan Renata dengan kedua matanya yang kosong menatap Deni yang ada di atas panggung. Emil menyenggol sahabatnya itu untuk menyadarkannya bahwa ia tidak sedang bermimpi. Deni sepertinya belum puas dengan pernyataan dari atas panggung yang mampu membuat semua orang memperhatikannya, ia kini sudah berada di depan Renata, dan dia, berlutut.
" Renata Alfisiera, aku tanya padamu sekali lagi, will you marry me ? " Deni membuka kotak kecil itu, berisi cincin.
Renata masih diam, setetes air matanya jatuh diikuti dengan anggukan pelan darinya. Dan seketika itu Deni tersenyum menang seraya memeluk wanita yang telah lama ia sukai itu.
***
Dalam perjalanan pulang, Renata memberikan semua pertanyaan yang selama ini mengganggu pikirannya.
" Apa maksudmu kamu yang tertarik padaku sejak awal ? "
" Hm...memang ia. "
" Tapi kan ... "
" Ren, coba kamu pikir deh, kenapa aku ngasih tiket gratis pertama kali ke Jean ? "
" Entahlah, kamu iseng. "
" Nope. Karena aku tau, satu-satunya orang yang bakal diajak Jean adalah kamu. Karena memang tujuanku adalah supaya kamu hadir. "
" Terus kenapa ngga ngasih langsung ke aku aja ? "
" Kamu ngga ingat kamu marah sama aku gara-gara tempat duduk itu ya ? Mana mungkin kamu mau nerima tiket gratisnya kalau kamu masih marah sama aku. "
" Terus, kenapa kamu ngga nembak aja dari dulu ? "
" Hhh..Aku takut kamu tolak sih. Aku ngga tau kamu juga sebenarnya suka sama aku, aku baru tau waktu tempo hari ketemu sama Emil terus Emil cerita dan muncullah ide yang tadi. "
" Arrgghh..Emil. " Renata merasa malu rahasinya bocor dari mulut sahabatnya sendiri.
" Yaudah, it doesn't matter know, right ? "
" Hm..looks like. " Renata memandang kembali cincin yang tadi diberikan oleh Deni.
" So..we're going to be married huh ? " Deni sudah menghentikan mobil Renata di depan kosnya.
" Yeah, just let's get married. Kamu bawa aja mobilnya, besok anterin aku ke kantor. "
" Sip bos. " Renata sudah turun dari mobil dan menuju rumah kost nya.
" Hei ada yang ketinggalan. " Deni mengejar Renata yang baru saja membuka pintu pagar.
" Apa lagi ? " Dan ketika itu, Deni mendaratkan kecupan mesra di dahi Renata yang seketika itu membuat Renata salah tingkah.
" Good night. " Senyum Deni mengembang, dan Renata, saat itu juga menganggap bahwa tidak apa-apa mulai saat itu untuk membiarkan lampu hijau selalu menyala di hatinya.

Rabu, 09 Mei 2012

tentang ayah


                
                Maryam masih duduk menunggu ayahnya menjemput. di depannya banyak orang sudah berseliweran mengejar kereta api yang bunyi peluitnya sudah terdengar. Ia menekuri keramik di bawahnya, sambil berpikir.
                ‘ ah..aku kembali lagi ke desa. Bagaimana ibu dan bapak serta Rina ya ? aku kangen.’
                Ia membuka tasnya dan mengecek apakah ia sudah yakin membawa oleh-oleh untuk ibu, ayah dan Rina (adiknya). Ia lihat kembali jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Biasanya, dulu, jam segini ayah baru saja pulang dari kerja. Maklum, ayah hanya seorang guru, dan gajinya tidak besar, terlebih lagi ini desa. Tapi, entahlah sekarang, ayah sudah semakin tua. Umurnya sudah lebih dari setengah abad. Hari semakin sore, namun sosok sang ayah belum juga terlihat. Maryam jadi semakin khawatir, apa ayah lupa ia datang hari ini. Ah tidak mungkin. Cepat ia tepis pikiran itu. Maryam kembali melihat jam tangannya, jam setengah enam sore. Ia semakin cemas, stasiun juga makin sepi. Angin lalu menghembuskan bau minyak wangi yang ia kenal. Bau minyak wangi tua yang dijual oleh pedagang asongan di pasar Senin. Ia menoleh pada arah minyak wangi itu datang. Dari kejauhan, ia lihat sosok itu kembali. Penuh dengan keringat yang membasahi wajahnya yang sudah mulai berkerut disana-sini. Ia berusaha memperlihatkan wajah senangnya dan menyembunyikan wajah lelahnya. Maryam seketika berdiri dan berlari menghampiri ayahnya. Dipeluknya tubuh lelaki yang kini lebih pendek darinya. Maryam menangis sangking rindunya ia pada sang ayah. Ayahnya sebenarnya senang, namun tetap bersikap tenang. Ia elus kerudung Maryam dengan lembut. Ia bisikan sesuatu pada anak tercintanya itu.
                “ wes..ndok. ojo nangis. Mulih yuk..”
                Maryam melepas pelukannya, mengusap air matanya dan tersenyum, tak ingin ayahnya khawatir. Ia lalu membopong tas ranselnya menuju sepeda motor ayah. Sepeda motor itu masih sama, butut dan tua. Maryam jadi ingin membelikan ayahnya sepeda motor baru jika nanti ia punya uang yang cukup. Perjalanan menuju rumah amat jauh. Sempat ia mampir sejenak untuk salat maghrib di langgar yang ia lewati. Saat sampai rumah, bau ikan goreng sudah tercium dari depan pintu rumah. Rumahnya masih rumah biasa, gubuk malah. Ibu di dalam sedang memasak, sedang Rina, belajar di kamarnya. Maryam lalu memberinya buku-buku pelajaran yang telah ia beli di kota. Maryam juga memberikan ibu sebuah alat solat baru. Sedang ayah tercintanya, ia belikan baju koko, sajadah, dan sarung. Ia juga membelikan jam tangan untuk sang ayah. Maryam mendapatkan uang yang cukup untuk itu semua hasil tabungannya selama ini. Semua berterima kasih pada Maryam. Setelah itu, ia berkumpul bersama keluarga untuk makan malam. Sudah lama ia rindukan waktu-waktu seperti ini.
                Maryam masuk ke kamarnya dan mengenang semua memori yang ada. Saat ia tak sengaja membuat dinding bolong dengan arit (semacam sabit) milik ayahnya. Saat itu, ayahnya tak marah, justru menunjukkan wajah khawatir mendapati sang anak sedang memegang benda tajam miliknya. Ayah tak bisa memperbaiki dinding dari anyaman bambu itu lantaran tak punya uang. Hingga sekarang pun lobang itu masih ada.
                Boneka pemberian ayahnya saat ia meraih rangking satupun masih utuh di atas ranjang tua dari kapuk tersebut. Ia juga jadi teringat saat ia dan ibu menangis sambil berpelukan di kamarnya lantaran ia harus melanjutkan sekolah ke kota, dan saat ia berpamitan dengan ayahnya di depan rumah, ayahnya tak menangis, malah tersenyum. Namun Maryam menangkap bulir air mata sang ayah saat ia naik ke mobil menuju kota. Dalam surat ayahnya bilang bahwa tak mau membuat ia sedih, ayahnya ingin Maryam untuk mengejar cita-citanya. Lama ia melamun, namun suara ibu menyadarkannya. Maryam segera salat isya dan tidur.
                Udara pagi di desa memang selalu segar. Pagi-pagi sekali ayah sudah tidak ada di rumah. Beliau kini bekerja sebagai buruh tani semenjak pensiun. Maryam ingin pergi ke kali. Biasanya ibu pergi ke kali untuk mencuci baju. Dulu, saat ia masih kecil, ibu selalu menggendong dirinya karena jarak yang jauh. Namun kini, karena kondisi ibu yang tidak memungkinkan, akhirnya, ia memutuskan untuk pergi sendiri. Ibunya hanya minta ia untuk hati-hati dan pulang saat makan siang tiba. Maryam akhirnya pergi mengandalkan seluruh ingatannya.
                Kali masih saja penuh. Dengan ibu-ibu yang mencuci baju, sedang anak-anaknya bermain air. Maryam ingin sekali ikut bermain, namun ia sadar, itu sudah bukan masanya. Jembatan dari bambu tua masih ada untuk menyebrang aliran kali yang lebih kecil. Ia ingat sekali, ia suka bermain air dari sela-sela pegangan tangan jembatan. Mengayun-ayunkan kaki, berimajinasi ia sedang berkecipuk dengan perahu yang berjalan. Ia melihat kearah jam tangannya. Sudah jam sebelas siang. Ia memutuskan untuk pulang dan membantu ibu menyiapkan makan siang. Ia ingin membuat menu spesial untuk ayahnya. Dengan riang, ia pulang dengan bertelanjang kaki.
                Sampai di rumah, ibu sedang menanak nasi di dapur. Sedang ayah belum juga pulang. Maryam membantu memotong gedong singkong (daun singkong). Ia lalu merebusnya, ia juga membuatkan ikan goreng pedas-manis  kesukaan ayahnya. Ibunya menyiapkan makan di ruangan depan dibantu Rina yang baru saja pulang sekolah. Tak lama, ayah pulang dan mereka pun berkumpul bersama. Maryam tau, ia akan merindukan suasana ini. Apalagi besok ia harus kembali ke kota, karena lusa, ia harus masuk kuliah.
                Malamnya, Maryam tak ingin tidur cepat. Ia tak mau cepat-cepat mengakhiri rasa rindunya pada desanya. Entah kapan lagi ia bisa ke sini. Apalagi aktivitas kuliahnya yang padat dan ia juga ingin cepat selesai karena ingin kembali ke desa dan membenahi semuanya. Dengan belaian manja ibu, Maryam akhirnya tertidur pulas di ranjangnya.
                Angin pagi menghembuskan kesejukannya. Maryam bernapas sedalam-dalamnya, menghirup udara segar ini sebelum ia kembali menghirup udara polusi di kota. Ayah sudah bersiap dengan motornya di depan rumah. Maryam berpamitan dengan ibu. Ia harus mengejar kereta siang ini. Ia harus pergi cukup pagi karena jarak rumahnya dengan stasiun yang terlampau jauh.
                Maryam menitikkan air mata tatkala ayahnya bermaksud pamit karena harus bekerja. Kenapa ayahnya masih harus bekerja padahal ia tau sudah cukup berat beban hidupnya. Ia peluk tubuh tua ayahnya, tak ingin melupakan harumnya minyak wangi tua kebanggaan ayahnya. Bunyi kereta sudah terdengar sayup-sayup dari kejauhan, Maryam segera naik dan meninggalkan ayahnya yang masih ada di luar. Sekali lagi ia menangis, dan ayahnya hanya tersenyum. Sama seperti pertama kali Maryam meninggalkan desa. Entah kapan ia bisa kembali lagi. Apakah nanti saat ia kembali, masih bisa ia lihat senyum itu ? Apakah masih akan ada seseorang yang akan tersenyum untuknya saat ia kembali ke kota, agar ia tidak sedih ? Sekali lagi, betapa ia ingin ayahnya tau bahwa Maryam sangat mencintai beliau. Kereta berangkat dan menyisakan asap-asap pengantar senyum sang Ayah serta bulir air mata Maryam.

Jumat, 17 Februari 2012

dia bukan hanya dia


Flo masih menatap layar laptopnya dengan diam. ‘Ternyata..’ Berulang kali ia memerintahkan airmatanya untuk tidak jatuh hanya untuk seorang Arka. Salju sudah mulai turun di luar jendelanya, menandakan musim dingin telah tiba. Sama seperti dia, musim dingin itu seakan mendukung hatinya untuk ikut lirih di dalamnya. Flo tidak pernah tau kenapa mengapa ia begitu memerhatikan gerak-gerik Arka. Ia tidak peduli menyampingkan segala tugas kuliahnya jika saat itu Arka sedang kalut dan ingin bercerita panjang lebar dengannya.
Pria itu, Arka. Pria teman satu sekolahnya dulu, saat ia masih di Indonesia dan mengenyam pendidikan SMA bersama. Tentu bukan Arka teman cowo satu-satunya yang ia punya, hanya saja, bagi Flo, Arka terlalu spesial.
From : Arka
Km ngga bls smsku td, knp ? km baik2 sj ?
Flo sudah tidak peduli dengan sms itu. Biasanya ia akan langsung membalasnya dengan muka penuh ceria, tapi tidak, ia menghapusnya dari handphone iphone-nya, lantas setelah itu mematikan segala telpon yang berasal dari Arka.
***
Flo sungguh tidak memiliki nafsu makan terhadap lasagna yang terpapar lezat di hadapannya. Padahal itu adalah makanan kesukaannya semenjak ia SMA. Hanya saja, lasagna itu sudah tidak sehangat suasana hatinya saat ini.
“ Berantem lagi ?”
Flo hanya diam, tidak menanggapi sama sekali apa yang baru saja Anne katakan padanya.
“ Flo !”
“ He ? Hah ? Kau bertanya apa tadi ?”
“ Ternyata kau melamun, sudah kuduga. Kenapa ? Lasagna kesukaanmu kan ? Kau tidak nafsu. Sakit ? Atau ada hubungannya dengan ‘teman dekat yang lebih dari teman’-mu itu ?”
“ Ah ? Kau maksud Arka ? Dia punya nama Anne.”
“ Yeah..whatever his name lah. Then ?”
“Ah..tidak apa-apa. Aku hanya tidak nafsu saja. Mungkin karna aku kedinginan tadi malam. Tertidur tapa selimut, lagi.”
“ Flo, ini sedang musim dingin. Kau mau membunuh dirimu pelan-pelan ?” Anne sudah menatap sinis pada Flo. Sedang Flo, ia tidak bergairah untuk berdebat dengan Anne, ia lebih memilih untuk diam.
“ Flo..aku ini orang bukan patung.”
“Ah..maaf, iya. Kau bilang apa tadi ?”
Anne sudah mulai kesal dengan tingkah Flo, “ Lupakan saja lah..Jadi ini karna Arka ?”
Flo hanya diam. Ia sibuk mencari celah di balik salju untuk menyembunyikan bendungan air mata yang sudah memaksa untuk keluar dari kelopak matanya.
“ Sudah kuduga. He’s not the only boy in this world, girl. You have to move on, Flo. Rasa ngenesmu padanya itu sudah seperti periode menstruasi, kau sadar nggak sih ? Bisa setiap bulan kau menyiksa dirimu sendiri. Tidak makan dengan alasan tidak nafsu. Tidur terlalu larut untuk sebuah alasan mengerjakan tugas dan mata bengkak di pagi harinya yang kau samarkan dengan kacamata mines-mu itu. Flo, sadarlah, ia bahkan tidak pantas untuk mendapatkan kamu.”
Flo masih diam, ia benar-benar kalut, “This will be the end, Anne. I promise.”
“ Aku tidak akan percaya, Flo. Kau mengatakan itu saat ketiga kalinya kamu bermasalah dengan orang itu. Aku bahkan enggan untuk menyebut namanya, Flo.”
“Hm..mungkin ini memang yang terakhir, Anne. Jika akan ada yang terjadi selanjutnya, mungkin aku sudah akan membunuh diriku dengan menimbun seluruh badanku pada tumpukan salju di depan flat-ku.”
“ Kau bodoh jika rela mati untuk orang seperti dia.” Kini Anne sudha benar-benar kesal pada sikap teman baiknya ini.
***
“No hot chocolate, Flo ?” Adam menatap heran pada Flo. Ini sudah seminggu berlalu sejak perdebatan kecilnya dengan Anne. Hanya saja, ia masih belum mau menalar segala peristiwa, bahkan didepan Adam. Seorang mahasiswa, penulis yang cukup terkenal,  yang telah ia kenal baik sejak masuk kuliah.
“Hm..no, I guess.”
“ What happen to you ?”
“ Nothing.”
Adam tau sekali apa maksud ‘nothing’ yang diucapkan oleh gadis didepannya.
“ Apakah aku melakukan kesalahan, Flo ?”
“ Tidak Adam. Kamu terlalu baik untuk melakukan kesalahan pada diriku.”
“ Lantas ?”
“Aku tidak ingin membahasnya, Adam. Minggu lalu saat aku membahasnya dengan Anne, aku bahkan hampir berantem dengannya.”
“I worry with you, girl.”
“I’m fine.”
“ Tidak seperti yang terlihat.”
Flo hanya diam saja. Adam bukan sekadar temannya. Cincin pemberian Adam, simbolik dari penantiannya pada jawaban Flo, masih tersimpan rapih di laci meja belajar kamar flat Flo.
“ Aku memang tidak bisa memaksamu, Flo.”
“ Maafkan aku Adam. Kamu terlalu baik Adam.”
Adam hanya tersenyum, saat ini posisinya serba salah. Sudah berkali-kali ia melihat Flo seperti ini, namun ia tidak bisa apa-apa selain menanyakan pada Flo ada apa. Beruntung jika Flo akan bercerita padanya seperti sebelumnya, namun jika tidak, maka ia tidak bisa apa-apa selain bersikap setenang mungkin walaupun saat itu hatinya mengumpat lelaki yang ia ketahui merebut sebagian besar hati Flo, bahkan tak tersisa sedikit saja untuknya.
“ Aku akan ke Indonesia hari selasa.”
“ Ada apa ? Apakah ada urusan di sana ?”
“Hm..tidak. Hanya saja ingin mengambil libur musim dingin lebih awal.”
“ Bagaimana dengan tugasmu tempo hari yang kau ceritakan, bukankah harus dikumpul besok ?”
“ Aku tetap akan mengumpulkannya. Aku akan berangkat di siang hari. Bagaimana dengan novelmu yang baru ? Sudah selesai ?”
“Hm..sedikit lagi. Aku sudah ditagih oleh editor sejak kemarin. Bolehkah aku ikut ke Indonesia ?”
“ Ha? Aku mau saja mengajakmu, tapi, bukankah keluargamu telah pindah ke sini setahun yang lalu ?”
“Hm..iya. Hanya saja..”
“ Don’t worry. Aku kesana bukan untuk menemuinya. Aku hanya kangen dengan Indonesia dan rumah.”
“ Baiklah, hati-hati. Aku akan mengantarmu besok ke bandara dan kau harus mau.”
Flo tersenyum tipis, sedang Adam kalut. Ia takut Flo akan terluka jika ia sekali lagi menemui orang itu di sana. Ia tau, kondisi Flo saat ini telah menggambarkan secara jelas bahwa ia sedang bermasalah dengan orang itu, yang telah menyita hati Flo, Arka.
***
“ Bagaimana disana ?” Hera menatap Flo yang sedari tadi memainkan sendok es krim-nya.
“ Di sana ? Dingin, sedang musim dingin.”
“ Hm..Aku ingin sekali melihat salju. Kapan ya aku bisa ke sana, Flo ?”
“Bagaimana kalau kau sudah libur semester kau pergi ke sana ?”
“Ide yang bagus juga. Tapi itu masih berbulan-bulan lagi, aku akan tertinggal musim dinginnya Flo.”
“Hm..iya juga ya..Ada waktunya nanti.” Flo tersenyum seikhlas yang ia bisa. Sungguh, menemui Hera saat ini bukanlah waktu yang tepat, ia belum bisa menetralkan perasaannya. Hanya saja, ia tidak punya cukup alasan untuk menolak menemui Hera.
“ Flo, ia menanyakan hal yang serius padaku ?”
“ Apa itu ?” Flo hanya menjawab sekadarnya agar ia terlihat biasa saja, padahal ia sudah tau yang sesungguhnya dan hatinya sudah teriak tidak ingin mendengarnya lagi.
“ Di blog-nya ia menulis suatu artikel baru dengan judul, ‘Will You Marry Me?” Kau tau itu tidak Flo ?”
“ He ? Tidak. Aku sibuk menyelesaikan tugasku beberapa minggu terakhir. Memang kenapa ?” Flo bohong, ia tau itu. Ia sangat tau untuk siapa artikel itu ditujukan dan bukan untuknya.
“ Hm…Kau buka saja. Tidak usah sajalah. Kau tau artikel ditujukan untuk siapa ?”
“ Tidak tau, siapa ?” Flo sudah menatap ke es krim coklatnya yang sudah mulai meleleh.
“ Aku,Flo.” Jawaban singkat itu membuat Flo ingin pergi meninggalkan Hera, namun itu tidak mungkin ia lakukan. Ia harus terlihat biasa saja. Seperti selama ini.
“ Lalu ?”
“ Tidak tau, Flo. Kita sudah lama berteman dengannya. Hanya saja aku tidak tau bahwa pada akhirnya ia akan memintaku untuk menuju ke tahap yang serius.”
“You already 25. Menurutku itu hal yang wajar. Lagipula ia sudah bekerja kan, dan kau tinggal menyelesaikan S2-mu satu tahun lagi.”
“Iya. Aku tau itu. Hanya saja, aku merasa tidak enak padamu Flo.”
“ Santai saja Hera. Kita bertiga berteman sudah lama dan kalaupun pada akhirnya ia memintamu untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius, seharusnya aku ikut bahagia.” Flo memaksakan otot mukanya untuk menyunggingkan senyum.
“ Terima kasih Flo. Aku janji akan mengirimkan undangannya untukmu.” Hera tersenyum manis. Ia terlalu manis dengan wajahnya yang mungil itu. Flo hanya bisa membalas sambil lalu memandang ke luar jendela.
“ Hm..Bagaimana dengan orang yang kau ceritakan itu, Flo ?”
“ Siapa ? Maksudmu Adam ?”
“Yep.”
“Entahlah, aku belum tau apa tindakan yang akan kuambil.”
“ Ia baik Flo, dan menyukaimu. Ia bahkan telah memiliki penghasilan dari beberapa novel ciptaannya.”
“Iya, aku tau itu. Hanya saja..entahlah.” Flo menarik dirinya untuk tidak mengingat betapa baiknya Adam padanya. Cincin itu bahkan ia bawa kemanapun ia pergi, just in case ia berubah pikiran. Hanya saja, ia berpikir kalau ia terlalu kejam untuk menerima Adam hanya untuk menggantikan posisi Arka, walaupun Adam bilang itu sama sekali bukan masalah.
***
Perpisahan itu menyakitkan. Ia tidak dendam pada Hera. Hanya saja, ia terlalu kalah. Ia terlalu kalah karna menganggap bahwa ia telah satu step lebih dari Hera padahal tidak. Dan pria itu, Arka, masih terus mengirimkan sms untuknya dari mulai menanyakan kabar hingga meminta Flo untuk mengangkat telponnya. Terakhir kali bahkan ia memaksa untuk datang ke rumah Flo saat ia tau dari Hera bahwa Flo sedang di Indonesia, namun Flo dengan segala alasan selalu menolaknya. Hati Flo belum siap untuk menghadapi wajah itu, wajah lelaki yang diam-diam ia sukai sejak SMA. Lelaki yang mengisi penuh hatinya, bahkan hingga sekarang. Lelaki yang mampu membuat ia tidur larut hanya untuk mendengarkan cerita Arka lewat chatting setiap malam. Itu semua terlalu sakit. Bahkan baginya, ini akan menjadi liburannya yang terakhir di Indonesia, karna demi apapun, ia akan malas sekali untuk kembali lagi ke sini dan melihat kenyataan bahwa teman baiknya dan lelaki yang masih ia cintai, mereka berdua telah memiliki malaikat kecil di tengah-tengah kebahagiaan mereka. Flo malas untuk berakting seolah ia senang dan tidak apa-apa padahal hatinya telah lebur. Ia memilih untuk kembali ke musim dinginnya. Ia memilih untuk menutup rapat hatinya. Meskipun ia tau itu sulit.
***
Adam telah menunggu di depan pintu kedatangan dengan senyum lembut. Ia tidak akan pernah merasa direpotkan untuk Flo, apapun itu. Wanita itu berjalan mencari sosoknya di tengah kerumunan orang. Flo dengan tas jinjing dan travelbagnya.
“ Welcome back, girl.”
“Yeah. Still cold, huh ?”
“Yeah.” Adam lalu membawakan travel bag Flo dan segera menuju ke parkiran.
Pemanas mobil telah dihidupkan, hanya saja, Flo terlalu lupa bagaimana menghadapi musim dingin, baju yang ia gunakan masih terlalu tipis untuk ganasnya musim dingin.
“ Sudah cukup hangat ?”
“Iya, terima kasih.”
“ Kenapa Flo ?”
“Hm..dia akan menikah.”
Adam kaget, dadanya berdebar, berharap nama yang akan diucapkan Flo itu bukanlah nama gadis yang sedang duduk di kursi sebelahnya.
“ Dengan ?”
“ Hera.”
Adam menghela napas cukup panjang, ia lega. Hanya saja, ia mengerti bagaimana perasaan Hera saat ini. Tanpa berkata apa-apa ia memacu pulang mobilnya.
***
Hera : Hey, undangannya telah kukirim ke e-mailmu.
Flo membacanya dengan muka datar. Ia sudah tidak apa-apa. Ini sudah sebulan sejak ia tau mereka akan menikah. Ia tidak berniat untuk membuka undangan itu, bukan karna ia takut membuka luka di hatinya kembali, hanya saja baginya, untuk apa ? Toh ia tidak akan datang.
Sore ini ia ada janji dengan Adam. Buku barunya telah keluar dan mereka berencana untuk menjadi pembeli yang kesekian, maka telah diputuskan mereka akan ke toko buku.
Adam sedang asik dideretan buku-buku sastra, sedang Flo sedang membaca synopsis buku karangan Adam dan memutuskan untuk membelinya satu, lantas mendatangi Adam.
“ Kau tau tidak ?”
“Apa ?” Adam masih fokus pada deretan buku didepannya.
“Cincin yang kau berikan itu tidak cukup di jariku, kekecilan.” Flo ikut asik pada deretan buku yang Adam perhatikan. Namun Adam masih serius dan kini ia tengah serius membaca synopsis suatu buku.
“Hm…mungkin sudah terlalu lama. Nanti akan kuganti dengan model yang sama.”
“Tidak perlu.” Adam kini melihat Flo, tertegun.
“Kau..”
Flo hanya tersenyum, “ Lebih indah jika digunakan sebagai bandul kalung. Bagaimana menurutmu ? Apakah ini menjawab ?”
Adam lebih tertegun lagi. Terjawab. Dan kali ini Flo yakin sekali bahwa Adam bukanlah pengganti Arka. Adam jauh lebih baik dari Arka.



*inspired by : ameonyq.wordpress.com -- badai